Jumat 28 Jan 2022 18:15 WIB

Kasus Covid-19 di SMA Warga Solo, Sekolah Diminta Selektif Adakan Kegiatan

Kegiatan yang sifatnya internal sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Muhammad Fakhruddin
Karyawan SMA Warga Solo melakukan penyemprotan cairan disinfektan di halaman kelas setelah temuan kasus positif COVID-19 di sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/1/2022). Setelah adanya 12 orang dari guru, siswa dan karyawan sekolah SMA Warga Solo yang terkonfirmasi positif COVID-19, pihak sekolah setempat mulai meniadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan mengganti sistem pembelajaran daring guna mencegah penyebaran Virus COVID-19.
Foto: Antara/Maulana Surya
Karyawan SMA Warga Solo melakukan penyemprotan cairan disinfektan di halaman kelas setelah temuan kasus positif COVID-19 di sekolah setempat, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/1/2022). Setelah adanya 12 orang dari guru, siswa dan karyawan sekolah SMA Warga Solo yang terkonfirmasi positif COVID-19, pihak sekolah setempat mulai meniadakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan mengganti sistem pembelajaran daring guna mencegah penyebaran Virus COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID,SOLO -- Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah meminta agar sekolah lebih selektif dalam mengadakan kegiatan di luar lingkungan sekolah untuk menghindari penularan Covid-19. Hal itu menyusul adanya kasus penularan Covid-19 di SMA Warga, Solo, Jawa Tengah. Hingga Jumat (28/1), totalnya ada 21 orang terdiri dari 14 siswa, empat guru dan tiga karyawan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Suratno, menyatakan, telah menggelar rapat evaluasi rutin pada Jumat mengenai pelaksanaan PTM. Dalam rapat tersebut, dia menyampaikan kepada kepala sekolah agar betul-betul selektif dalam mengadakan kegiatan.

Baca Juga

"Namanya virus tidak bisa dilihat berada di mana, kemudian tempat itu steril atau tidak. Makanya tadi saat rapat saya sampaikan hindari dulu kegiatan-kegiatan yang seperti itu. Jadi selektif. Tolong hindari dulu dan sangat selektif," jelas Suratno saat dihubungi wartawan, Jumat.

Menurutnya, Cabang Dinas Pendidikan juga tidak mungkin menahan seluruh kegiatan sekolah. Jika hanya 3-4 orang mengadakan kegiatan yang bisa dipastikan itu aman dari sisi penyebaran Covid-19 dan prokesnya bisa dijaga, maka masih mungkin diizinkan.

 

"Tapi kalau rombongan besar misal studi banding atau karya wisata, kami belum izinkan," tegasnya.

Suratno menambahkan, sebenarnya kegiatan-kegiatan yang sifatnya internal sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Namun, lantaran situasi pandemi, diperkirakan nantinya sekolah diminta melapor kepada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng kalau ada kegiatan di luar sekolah.

"Intinya pembelajaran tatap muka (PTM) ini kami ingin fokus di dalam kelas dulu atau lingkungan sekolah dulu. Sebenarnya kasus itu kan ada guru dan karyawannya, dari sisi pendampingan sudah cukup menurut saya, tapi kita tidak tahu namanya virus ada dimana," imbuhnya.

Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng membawahi SMA/SMK sederajat di wilayah Solo dan Sukoharjo. Sejak pemberlakuan PTM 100 persen pada awal Januari, laporan kasus Covid-19 baru dari SMA Warga. Selama ini, kegiatan ekatrakurikuler sudah diizinkan, selama itu bisa dipastikan aman dari penularan Covid-19.

"Secara umum PTM berjalan baik. Sejak awal kami mengondisikan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi saat PTM 100 persen. Tetapi memang ada kejadian khusus di SMA Warga tersebut. Maka untuk evaluasinya ya kita justru sebagai peringatan untuk yang lain, agar tidak terjadi seperti di SMA Warga," pungkasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement