Senin 21 Feb 2022 19:34 WIB

Kolaborasi Kunci Menjadi Peneliti Kelas Dunia

Publikasi penting karena merupakan catatan hidup seorang peneliti.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Kolaborasi Kunci Menjadi Peneliti Kelas Dunia. Kampus UMY.
Foto: Wahyu Suryana.
Kolaborasi Kunci Menjadi Peneliti Kelas Dunia. Kampus UMY.

REPUBLIKA.CO.ID,BANTUL -- Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Centre for Environmental Remote Sensing, Chiba University menilai, memperluas koneksi dan jaring pertemanan agar bisa melakukan kolaborasi merupakan salah dua kunci jadi peneliti kelas dunia.

Selain koneksi dan jaring pertemanan, Josaphat menyampaikan, ada hal-hal yang harus diperhatikan seseorang dalam perjalanannya menuju peneliti kelas dunia. Antara lain dengan berperan aktif dalam agenda-agenda simposium kelas dunia.

Baca Juga

Membuat roadmap kehidupan untuk lebih bisa mencapai target dengan tertata, dan aktif melakukan publikasi baik itu berupa paper maupun jurnal dan buku. Menurut Josaphat, publikasi penting karena merupakan catatan hidup seorang peneliti.

"Selain itu, menulis merupakan jembatan ilmu dari kita untuk anak cucu kita ke depan. Dengan menulis lalu melakukan publikasi, buah pemikiran akan dapat terus bermanfaat meski ke depan kita sudah tidak ada," kata Josaphat, Senin (21/2).

Hal itu disampaikan pemilik hak paten Mobile Satellite Atenna ini, dalam webinar How to be World Class Researcher and Professor. Digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), KBRI Tokyo dan PCIM Jepang sebagai rangkaian Milad 41 UMY.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UMY, Slamet Riyadi berpendapat, menjadi pribadi yang fokus dan inovatif merupakan poin utama jadi peneliti kelas dunia. Dengan itu, peneliti kelas dunia seharusnya dapat memberikan kontribusi.

"Kontribusi kepada masyarakat dan juga memberikan dampak secara global," ujar Slamet.

Deputy Chief of Mission, KBRI Tokyo, Tri Purnajaya berharap, agar kolaborasi dan kerja sama seperti yang dilakukan oleh UMY, KBRI Tokyo, dan PCIM Jepang dapat terus berlangsung. Sebab, kolaborasi merupakan keniscayaan dalam berdiplomasi.

"Saya berpesan kepada UMY dan PCIM Jepang untuk dapat terus berkarya agar bisa menunjukkan wajah Islam yang modern dan berkemajuan di kelas dunia," kata Tri.

Senada, Rektor UMY, Prof Gunawan Budiyanto berharap, webinar ini dapat memberi semangat baru bagi akademisi di lingkungan Muhammadiyah, khususnya UMY. Sebab, melalui aktivitas kolaborasi seperti ini, kita justru bisa melebarkan sayap.

"Untuk bekerja sama dalam berbagai bidang, seperti penelitian sosial," ujar Gunawan. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement