Selasa 01 Mar 2022 17:59 WIB

Wali Kota Surabaya Tegaskan tidak Ada Kader Kesehatan yang Dipecat

Sebagai bentuk perlindungan kepada para kader, Eri berencana membuat sebuah sistem.

Sejumlah kader kesehatan mengikuti Apel Kader Kesehatan di Gelora 10 November, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (28/11/2021). Apel yang diikuti 12.400 kader kesehatan Kota Surabaya dari keseluruhan kader sebanyak 32.600 itu dalam rangka persiapan menghadapi iklim pancaroba, Natal dan Tahun Baru.
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Sejumlah kader kesehatan mengikuti Apel Kader Kesehatan di Gelora 10 November, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (28/11/2021). Apel yang diikuti 12.400 kader kesehatan Kota Surabaya dari keseluruhan kader sebanyak 32.600 itu dalam rangka persiapan menghadapi iklim pancaroba, Natal dan Tahun Baru.

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan tidak ada kader kesehatan maupun kader lingkungan di Kota Pahlawan yang dipecat sebagaimana kabar yang berkembang saat ini di masyarakat.

"Ada yang bilang kader di sini kok dipecat? Yang bicara siapa? Kalau tidak mengerti, jangan menimbulkan sesuatu yang tidak tidak. Kasihan kader-kader yang bekerjanya dengan hati," kata Wali Kota Eri Cahyadi saat memperingati HUT ke-103 Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (PMKP) Kota Surabaya di Balai Kota Surabaya,Jawa Timur, Selasa (1/3/2022).

Baca Juga

Menurut dia, kader kesehatan dan lingkungan merupakan bagian dari pegiat sosial yang memiliki andil besar dalam membantu Pemkot Surabaya menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat. "Kota Surabaya dibangun dengan gotong-royong dan kekeluargaan. Saya pastikan pemerintah tidak akan tutup mata untuk kehebatan orang-orang seperti kader-kader yang ada di Kota Surabaya," ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, kader telah banyak membantu Pemkot Surabaya dalam menuntaskan berbagai persoalan di tengah masyarakat. Tak terkecuali, upaya penyelesaian kemiskinan, bayi tengkes hingga kesehatan. Itu dilakukan pemkot dengan cara gotong-royong bersama kader dan masyarakat.

 

"Sehingga kader-kader inilah yang harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Makanya kader ini bekerja hanya untuk kepentingan umat, kekeluargaan dan gotong-royong dengan pemerintah," ujarnya.

Oleh karena itu, Wali Kota Eri mengaku heran adanya kabar yang menyebutkan sejumlah kader Surabaya akan dipecat seiring dengan seleksi "Kader Buser Surabaya Hebat".

Untuk itu, Eri kembali memastikan bahwa tidak ada kader Surabaya yang dipecat. Untuk ituEri menginginkan agar seluruh kader yang ada di Surabaya menjadi satu bagian sehingga tidak ada kader yang paling lebih hebat. Sebab, kata dia, seluruhnya memiliki tujuan sama, yakni bekerja atas dasar sosial kemanusiaan untuk menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat.

"Jika kekuatan hati ini jadi satu dengan kekeluargaan dan gotong-royong, maka selesai masalah di Surabaya. Tidak ada orang miskin, tidak ada bayi stunting, tidak ada gizi buruk," ujarnya.

Bahkan, lanjut dia, sebagai bentuk perlindungan kepada para kader, Eri berencana membuat sebuah sistem. Melalui sistem tersebut, kata dia, maka diharapkan eksistensi kader Surabaya tak akan bisa digeser oleh siapapun. "Makanya saya membuat sistem. Kalau output-nya ada, maka kader ini tidak bisa digeser oleh siapapun. Karena mereka orang-orang hebat dan ikhlas," katanya.Sebelumnya sejumlah kader kesehatan di Kota Surabaya berniat mundur sebagai bentuk solidaritas atas kebijakan pemerintah kota memangkas jumlah kader kesehatan untuk diseleksi menjadi "Kader Buser Surabaya Hebat".Salah satu kader kesehatan di RT 05 RW 07 Kupang Jaya Rahmawati mengaku prihatin dengan kebijakan Pemkot Surabaya yang memangkas jumlah kader Surabaya yang selama ini berjasa menjaga lingkungan sekitar."Kami awalnya senang karena honor dinaikkan, tapi kemudian prihatin karena ada pemangkasan jumlah kader kesehatan. Kami kerjanya susah dari rumah ke rumah. Ada teman kami yang karena ada kenaikan insentif itu kemudian kredit ponsel sebagai penunjang kegiatan, tapi sekarang malah dipangkas," ujarnya.

 

sumber : ANTARA
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement