Jumat 08 Jul 2022 17:16 WIB

Berqurban Tumbuhkan Solidaritas Antar-Umat Manusia

Islam mengajarkan pula kepada setiap Muslim untuk senantiasa berbagi.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Berqurban Tumbuhkan Solidaritas Antar-Umat Manusia (ilustrasi).
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Berqurban Tumbuhkan Solidaritas Antar-Umat Manusia (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Ketua Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII), Junaidi Safitri menilai, kurban tidak hanya ajang menyisihkan harta untuk berkurban. Tapi, juga memiliki makna istimewa.

Secara makna yang paling mendasar, kita memenggal rasa egoisme, individualisme untuk senantiasa berbagi kepada sesama. Sebab, pada hakikatnya, dalam berbagi, berinfaq atau dalam bersedekah, tidak mengurangi sepeserpun harta dari kita.

Baca Juga

"Justru, itu akan terus menambah harta kita," kata Junaidi dalam Adha Fest 1443 Hijriah yang digelar Masjid Ulil Albab UII, Jumat (8/7/2022).

Ia mengingatkan, sebagai mahluk sosial, Islam mengajarkan pula kepada setiap Muslim untuk senantiasa berbagi dan menjalin solidaritas antar umat manusia. Sehingga, semangat berbagi memiliki manfaat lain menumbuhkan persaudaraan.

 

"Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan antar umat manusia," ujar Junaidi.

CEO Indonesia Medika, dr Gamal Albinsaid menekankan, pentingnya memiliki suatu orientasi. Tujuannya, agar dapat lebih kuat dalam hal-hal seperti keilmuan, sumber daya finansial, kemampuan mempengaruhi orang dan lain sebagainya.

Artinya, memiliki satu kekuatan untuk menghadapi sebuah perubahan. Selain itu, Gamal mengaku tidak sepakat kalau mahasiswa sering disebut sebagai 'agent of change' karena mereka bukan lagi cuma berada di level menjadi agent of change.

"Tapi, jadi director of change yaitu orang yang mengatur dan memimpin perubahan itu," kata Gamal.

Ia melihat, anak muda mudah terjebak impresi atau kesan orang lain terhadap dirinya. Misal, habiskan waktu di sosial media untuk meraih pengikut, komentar atau disukai. Ia malah menyarankan untuk tidak mencoba mengesankan orang lain.

Padahal, Gamal berpendapat, seharusnya mereka lebih fokus untuk bisa membuat dampak terhadap orang lain. Sebab, ia mengingatkan, kesan akan mudah hilang, sedangkan jika kita bisa memberikan dampak ke orang lain akan berkelanjutan.

"Because impress will be lost but impact will survive, maybe you are impressive but are you impactfully," ujar Gamal.

Akhir acara, Gamal memberikan pesan dan motivasi untuk anak muda mengejar mimpi. Sebab, jika tidak mengejar mimpi, orang lain akan membayarmu mengejar mimpi mereka. Karenanya, ia menyarankan untuk meningkatkan kualitas sumber daya diri.

"Untuk mampu mencapai dan mengendalikan apa-apa yang mungkin dalam kendali kita," kata Gamal, menutup.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement