Kamis 14 Jul 2022 15:37 WIB

Total 487 Hewan Kurban Terkena Cacing Hati di Sleman

Selain cacing hati, ditemukan pula ternak yang mengalami pneumonia.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Panitia kurban menyembelih hewan kurban di Masjid Pathok Negoro, Ploso Kuning, Sleman, DI Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Panitia kurban menyembelih hewan kurban di Masjid Pathok Negoro, Ploso Kuning, Sleman, DI Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, DIY, telah melaksanakan pemantauan terhadap sebanyak 353 titik pasar hewan. Terdiri dari 110 lokasi kandang kelompok, 10 lokasi pinggir jalan, dan 233 lokasi perseorangan.

Kepala Dinas P3 Sleman, Suparmono mengatakan, jumlah ternak yang terpantau ada 6.431 ekor terdiri dari 3.306 sapi, 2.942 domba, dan 183 kambing. Permintaan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang diterbitkan petugas medik naik.

Total ada 702 SKKH yang diterbitkan untuk 1.030 sapi, 426 domba, dan 19 kambing. Sedangkan, SKKH yang diterbitkan kabupaten maupun provinsi total 171 surat. Ada 123 SKKH antar kabupaten dengan rincian 114 sapi, 126 domba, dan tiga kambing.

"Sebanyak 48 Surat Keterangan Kesehatan hewan (SKKH) antar provinsi dengan rincian sapi 83 ekor dan domba 195 ekor. Sedangkan, untuk penerbitan rekomendasi pemotongan ternak di luar rumah potong hewan ada 91 rekom," kata Suparmono, Kamis (14/7/2022).

 

Sebelum dilaksanakan penyembelihan ternak, mereka melakukan pula pemeriksaan ante mortem memastikan ternak yang akan dipotong sehat. Usai penyembelihan, dilakukan pula pemeriksaan post mortem untuk memastikan semua bagian sehat dikonsumsi.

Hasil pemeriksaan selama periode 9 Juni-13 Juli 2022, terdapat total 2.586 titik pemantauan pemotongan hewan kurban. Total ternak yang dipotong mencapai 24.825 ekor yang terdiri dari 10.037 sapi, 2.413 ekor kambing dan 12.375 ekor domba.

"Persentase kasus fasciola pada sapi 461 (4,59 persen), kasus fasciola pada kambing enam (0,25 persen) dan persentase kasus fasciola pada ternak domba 20 (0,16). Persentase fasciola dari total pemotongan ternak 487 (1,96 persen)," ujarnya.

Meski begitu, ia menekankan, untuk ternak yang saat disembelih di hatinya kena cacing, daging aman untuk dikonsumsi. Hanya bagian hati yang terkena cacing saja diafkir, sedangkan hati yang terkena menyeluruh, seluruh hati diafkir.

Saat pemantauan pemotongan hewan kurban, ditemukan satu ternak yang mengarah atau bergejala PMK. Ternak tetap dipotong, tapi bagian kepala, kaki, dan jeroan diafkir. Selain cacing hati, ditemukan pula ternak yang mengalami pneumonia.

Ditemukan di tujuh ekor sapi dengan bagian paru-paru sudah diafkir, tapi daging dan bagian lain aman dikonsumsi. Terjadi pula peningkatan pemantauan titik pasar tiban yang dikarenakan Idul Adha saat ini berbarengan kemunculan penyakit PMK.

"Petugas pemantauan pasar tiba lebih meningkatkan kunjungan ke kelompok maupun pedagang dan peternak perseorangan, mendata ternak yang siap untuk dijadikan kurban dan pengobatan bila ada ternak yang sakit," kata dia.

Peningkatan 230 titik pemantauan karena jumlah petugas yang terlibat bertambah, shohibul kurban bertambah dan peran aktif panitia kurban melaporkan kegiatannya. Peningkatan jumlah pemotongan ternak 7.149 ekor karena masa pandemi berakhir.

Kemudian, ada peningkatan kesadaran untuk berkurban dari masyarakat. Serta, meningkatnya pemantauan petugas ke titik pemotongan ternak dan peningkatan panitia kurban melapor. Temuan kasus cacing hati turut alami peningkatan.

"Karena lebih banyak titik potong yang bisa dipantau petugas yang selama pandemi tidak terpantau, keberhasilan sosialisasi pemotongan hewan kurban kepada takmir masjid atau paniita kurban, sehingga paham tentang produk hewan yang sehat," ujar Suparmono.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement