Senin 17 Oct 2022 17:11 WIB

Penderita Gangguan Ginjal Akut Meninggal Dunia Ada Suspek Covid-19

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) agar tetap dilakukan dengan disiplin.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Kasus gangguan ginjal akut misterius.
Foto: Republika
Kasus gangguan ginjal akut misterius.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY melaporkan 13 kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak, dengan lima kasus di antaranya meninggal dunia. Dari kasus yang meninggal dunia tersebut, ada yang disertai komplikasi karena Covid-19.

Pasalnya, Covid-19 dapat memperparah gangguan ginjal akut misterius yang terjadi pada anak. Dari lima kasus gangguan ginjal akut yang dilaporkan meninggal dunia, satu kasus di antaranya juga merupakan kasus suspek Covid-19.

"Ternyata ada yang dari (lima kasus meninggal dunia) itu yang kita tidak ketahui (penyebabnya), itu ternyata ada juga ada yang komplikasi karena Covid-19, karena termasuk suspek Covid-19," kata Pembajun kepada Republika.co.id saat dikonfirmasi, Senin (17/10/2022).

Saat ini, kondisi penyebaran Covid-19 di DIY sudah landai dan DIY berstatus PPKM level 1. Meskipun begitu, Kepala Dinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie, meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan Covid-19 ini.

 

"Tetap saja, karena dari kasus ini ternyata ada suspek Covid-19 juga, sekalipun kita sudah di level 1, sekalipun sudah melandai kasusnya, tetap harus waspada terhadap penularan Covid-19 ini. Karena belum endemi, masih pandemi," ujar dia.

Untuk itu, Pembajun menekankan agar perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tetap dilakukan dengan disiplin. Termasuk penerapan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 yang dilakukan dengan ketat.

"Terapkan perilaku hidup bersih, kita ini resikonya (Covid-19) masih lumayan (besar) walaupun sudah melandai dan kasusnya sudah sedikit. Tapi kan tetap kita harus waspada, tetap baik-baik, jaga diri dan jaga kesehatan," lanjut Pembajun.

Ia menjelaskan, dari keseluruhan kasus gangguan ginjal akut misterius yang sudah ditemukan di DIY, belum diketahui penyebab pastinya. Saat ini, pemerintah pusat juga masih melakukan evaluasi terkait dengan penyebab gangguan ginjal akut ini.

Meski begitu, Pembajun menduga penyebabnya bukan dari obat yang mengandung etilen glikol seperti yang terjadi di Gambia. Di Gambia, dilaporkan puluhan anak meninggal karena kasus serupa akibat mengonsumsi obat batuk produksi India yang mengandung senyawa kimia tersebut.

"Kalau di Gambia karena obat batuk, tapi kan BPOM sudah menyatakan bahwa obat batuk itu tidak ada yang masuk (beredar) di Indonesia. Jadi (gangguan ginjal akut misterius ini) bisa jadi dari makanan, kalau dari obat saya tidak yakin juga," jelasnya.

Pembajun pun meminta agar masyarakat tidak panik dengan munculnya gangguan ginjal akut ini. Ia meminta masyarakat mengenali gejala-gejala yang dapat muncul muncul seperti demam, batuk pilek, hingga tidak bisa buang air kecil.

"Intinya masyarakat tidak perlu galau, khawatir atau panik, yang jelas jika ditemukan gejala-gejala seperti itu, maka baiknya segera mencari pertolongan, artinya segera ke fasyankes," tambah dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement