Sabtu 29 Oct 2022 08:24 WIB

Dari Penelitian untuk Kebermanfaatan Masyarakat Luas

Banyak hibah penelitian pernah diterima Suparman dari 2014 sampai 2021.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Guru Besar Ilmu Matematika Terapan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UAD, Suparman.
Foto: Dokumen
Guru Besar Ilmu Matematika Terapan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UAD, Suparman.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Penelitian yang dilakukan dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Suparman, menjadikannya memperoleh gelar sebagai guru besar. Ia merupakan guru besar dalam bidang Ilmu Matematika Terapan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UAD.

Suparman mendapatkan gelar sebagai guru besar di 2022 ini, yang sekaligus menambah jumlah guru besar di UAD. Penelitian Suparman mengangkat judul Penerapan Reversible Jump Markov Chain Monte Carlo pada Pemodelan Bayesian Hirarki Berdimensi Variabel.

Dari hasil penelitiannya ini, Suparman berharap dapat memberikan kemanfaatan bagi masya­rakat luas. Ia menjelaskan, dari penelitian tersebut tidak hanya bermanfaat dalam bidang matematika, namun juga bidang keilmuan lainnya.

"Dari model yang kita estimasi bisa untuk peramalan harga saham ke depan misalnya, segmentasi sinyal dari citra diambil dari satelit yang di situ kita bisa mengestimasi kontur misalnya, dari penelitian ini bisa ke berbagai ilmu terapan," kata Suparman kepada Republika.co.id, Kamis (27/10).

Hal yang ia pegang dalam melakukan penelitian yakni agar dapat berguna bagi dunia pendidikan, persyarikatan Muhammadiyah, hingga masyarakat luas. Ia juga berharap, penelitiannya tersebut dapat bermanfaat dalam membangun peradaban.

"Dalam arti, kebetulan saya juga ang­gota Majelis Dikdasmen (PP Muhammadiyah), penelitian ini dapat untuk peningkatan kualitas guru dengan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru. Bagi mahasiswa juga memberikan manfaat terutama mahasiswa S1 semester akhir untuk melakukan penelitian dan publikasi karya ilmiah," tambahnya.

Penelitian tersebut dilakukan atas adanya hibah atau pendanaan dari inter­nal UAD dan luar UAD. Menurut Suparman, melalui pendanaan tersebut sangat membantunya dalam menyelesaikan penelitian maupun memudahkan dalam proses pengajuan untuk menjadi guru besar.

Seperti pendanaan untuk publikasi hasil penelitian (karya ilmiah) ke jurnal internasional bere­putasi. Pasalnya, publikasi ini menjadi salah satu syarat untuk mengajukan guru besar.

"Dalam pembiayaan publikasi dibantu UAD karena satu jurnal (yang dipublikasikan) saja kadang bisa 300-an dolar AS," tambahnya.

Terkait dengan gelar guru besar yang ia dapatkan, Suparman pun menceritakan proses dalam mencapai hal tersebut. Suparman masuk ke UAD sejak 2011.

Artinya, sudah 10 tahun lebih ia mengabdi di UAD hingga akhirnya mendapatkan gelar sebagai guru besar. Berbagai proses pun dilalui Suparman hingga menjadi guru besar.

Bahkan, ia sempat mengalami kendala dalam proses pengajuan guru besar ini. Kendala yang dihadapi yakni adanya aturan baru yang dikeluarkan pemerintah saat ia sudah menyiapkan berbagai syarat untuk mengajukan gelar sebagai guru besar.

"Aturan baru yang juga menyusahkan, akhirnya mengacaukan rencana. Misalnya dulu ada aturan harus mengabdi 20 tahun (sebagai dosen), waktu itu saya belum memenuhi syarat itu. Tapi sekarang syarat itu sudah dihapus," ujar Suparman.

Bantuan pendanaan

Ketika syarat tersebut sudah dihapuskan, Suparman mengambil langkah cepat untuk mengajukan guru besar. Bersamaan dengan berbagai syarat lainnya yang sudah dipenuhi, alhasil di 2022 ini ia berhasil mendapatkan gelar guru besar.

"(Pengajuan) Di internal (UAD) mulai 2019, mulai mengajukan ke senat fakultas dan universitas. Kemudian November 2020 itu sudah masuk LLDikti. Di LLDikti kalau ada yang kurang diper­baiki hingga terbit (di 2022)," jelasnya.

UAD sendiri memiliki program percepatan guru besar dalam rangka memperbanyak jumlah guru besar. Program ini juga dikeluarkan untuk meningkatkan kompetensi SDM UAD, maupun kompetensi lulusan UAD.

Melalui program ini, Suparman me­nilai sangat membantu dalam memudah­kan dosen-dosen untuk meraih gelar gu­ru besar. Pasalnya, ada pendampingan yang dilakukan kepada dosen yang mengajukan guru besar, selain adanya bantuan pendanaan.

"Percepatan (guru besar) ini  memudahkan dan itu sangat membantu," tambah Suparman.

Selama perjalanannya sebagai dosen dan menjadi guru besar, berbagai seminar internasional pun juga sudah diikutinya. Mulai dari seminar di London, Jepang, Australia, AS, hingga Prancis.

Tidak hanya itu, juga banyak hibah penelitian yang pernah diterimanya dari 2014 sampai 2021 de­ngan luaran yang seluruhnya dipublikasikan di jurnal internasional. Termasuk hibah pengabdian yang juga pernah diterima sejak 2014 hingga 2020.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement