Selasa 20 Dec 2022 16:01 WIB

Inflasi DIY Diperkirakan Makin Tinggi di AKhir Tahun

Permintaan masyarakat sudah mulai meningkat di DIY.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Muhammad Fakhruddin
Inflasi DIY Diperkirakan Makin Tinggi di AKhir Tahun (ilustrasi).
Inflasi DIY Diperkirakan Makin Tinggi di AKhir Tahun (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Bank Indonesia (BI) DIY memperkirakan inflasi DIY akan lebih tinggi di akhir tahun 2022. Saat ini inflasi DIY tercatat masih tinggi yakni di angka 6,54 persen (yoy).

Inflasi diperkirakan akan semakin tinggi pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023 seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Hal ini didorong dengan naiknya harga kebutuhan pokok di DIY, hingga naiknya biaya transportasi.

Baca Juga

"Hingga akhir tahun kami perkirakan inflasi DIY akan masih mengalami peningkatan, terutama adanya peningkatan permintaan yang lebih tinggi dari periode sebelumnya," kata Kepala Perwakilan BI DIY, Budiharto Setyawan di Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (20/12).

"Ini (inflasi) terjadi karena adanya kenaikan permintaan pasokan pangan dan transportasi yang mendorong harga secara temporer. Jadi lebih karena adanya demand (permintaan) yang meningkat," lanjut Budi.

Menjelang libur Nataru 2023 ini, permintaan masyarakat sudah mulai meningkat di DIY. Hingga libur Nataru nanti, permintaan diperkirakan akan terus meningkat mengingat karakteristik DIY yang merupakan salah tujuan wisata.

Budi menyebut, dengan karakteristik DIY tersebut, membuat pemulihan ekonomi di DIY justru lebih cepat dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Namun, disisi lain hal tersebut juga menyebabkan inflasi DIY menjadi lebih tinggi.

"Kita mengalami pemulihan ekonomi yang lebih cepat dibanding daerah lainnya, di sisi lain inflasi kita lebih tinggi karena mobilitas masyarakat juga lebih cepat terjadi di DIY dibanding daerah lain," ujarnya.

"69 persen inflasi kita disumbangkan oleh core inflation yang disebabkan demand atau permintaan, DIY tujuan wisata dan pendidikan. Jadi yang datang ke Yogya dari luar daerah dan di daerah asal mereka memiliki kemampuan beli yang tinggi, jadi ketika di Yogya menjadi kesempatan bagi pedagang menjual (dengan harga tinggi) karena adanya demand tadi," tambahnya.

Terkait dengan komoditas pangan yang menyumbang inflasi di DIY, yakni telur ayam ras, bawang merah gan aneka cabai. Budi menuturkan, komoditas pangan tersebut mengalami kenaikan di pasar, meski ketersediaannya masih mencukupi.

"Berdasarkan pantauan bersama oleh tim TPID DIY, pasokan di pasaran masih terjaga, meski ada kecenderungan peningkatan harga yang kami perkirakan bersifat temporer," jelas Budi.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (APSDA) Setda DIY, Yuna Pancawati mengatakan, berbagai upaya pun dilakukan untuk mengendalikan inflasi di DIY.

"Pengendalian inflasi, upaya kita dengan pemantauan harga setiap hari, operasi pasar juga dilakukan, pelaksanaan pasar murah dan koordinasi dengan distributor dan pedagang," kata Yuna.

Terkait dengan pemantauan, terus dilakukan menjelang Nataru di seluruh kabupaten/kota di DIY. Dari pemantauan yang dilakukan, tercatat ada kenaikan di beberapa komoditas pangan yang menyumbang inflasi di DIY, seperti kenaikan harga telur ayam ras.

"Ada di beberapa komoditas, tapi tidak signifikan karena meningkatnya permintaan masyarakat," jelas Yuna.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement