Kamis 22 Dec 2022 22:46 WIB

Dosen RSA UGM Jelaskan Hiposmia Sebagai Gejala Baru Covid-19

Di masa pandemi Covid-19 lalu kemunculan kasus pasien dengan hiposmia cukup banyak.

Dosen RSA UGM Jelaskan Hiposmia Sebagai Gejala Baru Covid-19 (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Dosen RSA UGM Jelaskan Hiposmia Sebagai Gejala Baru Covid-19 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Dosen sekaligus dokter spesialis THT Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dr Anton Sony Wibowo menjelaskan hiposmiasebagai salah satu gejala baru COVID-19.

Anton mengatakan hiposmia merupakan salah satu gejala penurunan kemampuan membau terhadap sesuatu.

Baca Juga

"Misal bau amis masih amis atau manis masih manis hanya saja intensitas baunya berkurang," kata dia, Kamis (22/12/2022).

Pasien yang mengalami hiposmia, kata Anton, kerap mengeluhkan benda-benda atau sumber bau yang seharusnya tercium dengan kuat, namun hanya tercium samar-samar atau tidak jelas jenis baunya, meski jenis bau masih sama.

 

Ia menyebutkan di masa pandemi COVID-19 lalu kemunculan kasus pasien dengan hiposmia cukup banyak.

Di luar negeri, kata dia, dilaporkan ada sekitar 60 persen pasien rawat jalan yang dilaporkan mengeluhkan penurunan kemampuan membau.

"Penelitian saya di RSA UGM tahun 2022, sekitar 50 persen pasien di poli rawat jalan yang mengalami hiposmia," ujar dia.

Hiposmia merupakan gejala yang tidak hanya muncul karena infeksi COVID-19 saja. Namun, gejala ini dapat terjadi akibat infeksi hidung dan sinus, hipertrofi nasal turbinate, maupun infeksi virus lainnya bahkan juga disebabkan cedera pada bagian kepala.

Anton mengatakan pengobatan hiposmia berupa pengobatan untuk virus itu sendiri. Selain itu, ditambah dengan terapi suportif lain seperti multivitamin tertentu.

"Yang terpenting adalah mengobati penyakit dasarnya karena hiposmia hanya gejala," kata dia.

Meskipun COVID-19 di Indonesia dilaporkan melandai dengan jumlah kasus harian yang terus menurun, Anton mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan.

"Kita tidak boleh lengah untuk terus menjaga penularan kasus karena COVID-19 masih ada," kata dia.

Ia juga meminta masyarakat segera melakukan vaksinasi bagi yang belum mendapatkannya. Lalu, bagi yang sudah divaksin untuk melakukan vaksinasi booster guna meningkatkan antibodi sehingga risiko penularan COVID-19 dapat ditekan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement