Selasa 09 May 2023 21:55 WIB

MItra Deradikalisasi di Semarang Didorong Tularkan Sentuhan Hidayah ke Masyarakat

Mitra deradikalisasi pada dasarnya mempunyai tugas yang sama.

Kepala BNPT Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Kepala BNPT Komjen Pol Rycko Amelza Dahniel

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Program deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) RI bersama stakeholder lainnya seperti Direktorat Jenderal Pemasyarakat (Ditjen PAS), Densus 88, dan Pemerintah Daerah (Pemda) telah banyak membawa hasil. Saat ini, banyak mitra deradikalisasi atau mantan narapidana terorisme (napiter) tergabung dalam yayasan atau paguyuban perdamaian dan siap bersinergi bersama pemerintah dalam memberikan pemahaman tentang bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Kepala BNPT RI Komjen Pol Prof Rycko Amelza Dahniel, mengungkapkan pihaknya sangat membutuhkan peran serta mitra deradikalisasi. Pasalnya, sebagai mantan orang yang pernah terjerumus pemahaman radikalisme dan terorisme, mitra deradikalisasi dapat membagikan pengalaman hidup mereka terkait pemahaman yang benar agar masyarakat terhindar dari pemahaman yang melenceng dan tidak sesuai dengan Ideologi bangsa.

"Ke depan, kawan-kawan kita ini (mitra deradikalisasi) akan membagi pengalaman mereka, membagi sentuhan hidayah yang mereka terima, sehingga bisa mengajak yang masih salah pemahamannya ke pemahaman yang benar," kata Kepala BNPT RI Komjen Pol Prof Rycko Amelza Dahniel, dalam kegiatan Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan bersama Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) di Kota Semarang Jawa Tengah pada Jumat (5/5/2023).

Dalam ikhtiar meluruskan pemahaman yang salah kepada masyarakat, mitra deradikalisasi juga diharapkan dapat menyebarkan pemahaman nilai-nilai Islam yang moderat, cinta damai dan rahmatan lil alamin. Kepala BNPT saat ini menggambarkan Persadani sebagai salah satu contoh mitra deradikalisasi yang turut serta melindungi NKRI.

 

"Dengan adanya perkumpulan ini (Persadani), rasa kebangsaan telah diikat. Ini diperlukan karena bangsan Indonesia dibangun di atas berbagai perbedaan. Kebangsaanlah yang menyatukan perbedaan suatu negeri,” ujar," tutur Rycko.

Pada kesempatan itu, Kepala BNPT menyampaikan pesan penting bahwa sebagai abdi negara, BNPT memiliki kewajiban menjaga upaya mencapai cita-cita bangsa tanpa melihat perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Di samping itu, baik pejabat negara maupun mitra deradikalisasi pada dasarnya mempunyai tugas yang sama yakni melindungi segenap tumpah darah Indonesia, meskipun cara pelaksanaannya berbeda-beda.

"Perbedaan memiliki potensi konflik sehingga perlu suatu alat pemersatu, yaitu rasa kebangsaan, satu tanah air, dan nikmat Allah SWT," ucap Kepala BNPT.

Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menambahkan bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk mempererat silaturahmi dengan mitra deradikalisasidan meningkatkan kembali ukhuwah serta mengoptimalkan persaudaraan yang telah dibangun untuk menggapai cita-cita negara. "Tujuan dari silaturahmi ini untuk melanjutkan program deradikalisasi serta dalam rangka hari raya Idul Fitri semoga selalu diberkahi oleh Allah dan tetap teguh mencintai NKRI," ucap Nurwakhid.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement