Kamis 18 May 2023 18:54 WIB

Implementasi Program dan Visi Misi Muhammadiyah DIY Hadapi Tiga Tantangan

Monitoring dilakukan untuk melihat ketercapaian program kerja majelis dan lembaga.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Yusuf Assidiq
  Pertemuan Peneguhan Visi, Misi, dan Komitmen Pimpinan Majelis dan Lembaga PWM DIY, di aula Masjid Sudja RS PKU Muhammadiyah Gamping, DI Yogyakarta.
Foto: Dokumen
Pertemuan Peneguhan Visi, Misi, dan Komitmen Pimpinan Majelis dan Lembaga PWM DIY, di aula Masjid Sudja RS PKU Muhammadiyah Gamping, DI Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menyelenggarakan pertemuan Peneguhan Visi, Misi, dan Komitmen Pimpinan Majelis dan Lembaga PWM DIY, di Aula Masjid Sudja RS PKU Muhammadiyah Gamping, DI Yogyakarta, Kamis (18/5/2023). Ketua PWM DIY, Muhammad Ikhwan Ahada, pun menyampaikan tiga hal yang menjadi tantangan PWM.

Tantangan pertama yaitu masuk dan massifnya infiltrasi gerakan Islam transnasional ke dalam batang tubuh Muhammadiyah DIY. Kemudian, tantangan kedua yaitu kedekatan PWM DIY dengan mitra dakwah dengan komponen luar.

 

"Adapun tantangan ketiga, perlunya peningkatan respons problem sosial, klithih, kekerasan berbasis agama, disparitas pendapatan, dan lain-lain," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, problem internal juga tidak kalah penting untuk diselesaikan. Ahada menyebut empat hambatan penting yang menjadi tantangan ke depan.

Yaitu optimalisasi pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), memodernisasi tata kelola keuangan, kemandirian dalam pendanaan dakwah, penguatan koordinasi dan konsolidasi internal.

Dalam pidato iftitah, ia lantas menyampaikan arah kebijakan PWM DIY. "Muhammadiyah harus menjadi alat dakwah amar makruf nahi mungkar melalui peningkatnya sinergi dengan seluruh komponen umat, bangsa, dan kemitraan di tingkat daerah, nasional, dan internasional agar tercipta pranata sosial berkemajuan bagi tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai Islam di DIY,"  kata Ahada.

Sekretaris PWM DIY, Arif Jamali Muis, dalam paparannya mengatakan pemilihan tempat di aula Masjid Sudja memiliki dasar historis dan idiologis. Pertama, Muhammadiyah DIY ingin menegaskan masjid harus menjadi sentral pengembangan ide, gagasan, pemberdayaan, dan peradaban berkemajuan.

Menurutnya masjid juga harus menjadi pusat peradaban umat, bangsa, dan negara. Kedua, sosok Kiai Sujak dipandang sebagai tokoh besar Muhammadiyah yang mampu menerjemahkan dengan baik teologi al Maun dengan visi ke depan yang sangat jauh.

"Sujak-lah tokoh berdirinya RS PKU Muhammadiyah yang pada akhirnya menjamur ke seluruh Nusantara. Muhammadiyah DIY adalah laskar-laskar Sujak yang akan menjadi pelopor kemajuan abad kedua Muhammadiyah ini," tegasnya.

Selain itu Arif mengatakan, Muhammadiyah DIY akan menjadi organisasi yang unggul dan berkemajuan, di mana anggotanya lebih dari 648 orang dengan dengan latar belakang pendidikan, profesi, dan strata pendidikan yang beragam dengan rentang usia 80 persen di bawah 50 tahun.

Sinergi dan kolaborasi antarmajelis, lembaga dapat dilakukan melalui implementasi program kerja yang terukur selama lima tahun ke depan. Ia menambahkan, PWM DIY akan selalu mengelaborasikan program dan melakukan monitoring secara periodik untuk melihat ketercapaian program kerja majelis dan lembaga melalui performance indikator program.

"Semoga Allah membersamai seluruh usaha majelis dan lembaga PWM DIY dalam menjalankan amanat dalam mewujudkan cita cita besar masyarakat utama yang sebenar-benarnya," ujarnya.

Diakhir kegiatan, Bendahara PWM DIY Latief Baedowi menyampaikan pentingnya perencanaan yang baik dalam merumuskan program kerja, anggaran, dan pelaporanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement