Rabu 09 Aug 2023 09:32 WIB

Berwirausaha, Dewi Astuti Usung 'Sustainable' Batik dan Zero Waste di Ghawean Dewe

Ghawean Dewe memasarkan baju dan aksesori untuk anak-anak hingga remaja.

Dewi Astuti (36) telah menempuh jalan panjang dalam membangun bisnis fesyen di bawah merek Ghawean Dewe.
Foto: dokpri
Dewi Astuti (36) telah menempuh jalan panjang dalam membangun bisnis fesyen di bawah merek Ghawean Dewe.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewi Astuti (36) telah menempuh jalan panjang dalam membangun bisnis fesyen di bawah merek 'Ghawean Dewe'. Ghawean Dewe artinya bikinan alias buatan dewe. Dewe diambil dari nama panggilan yang disematkan orang-orang terdekat kepada Dewi. 

Melalui Ghawean Dewe, Dewi menuangkan kreativitasnya menciptakan produk fesyen dan aneka aksesori berbahan batik, serta kecintaannya kepada anak-anak. Ghawean Dewe memasarkan baju dan aksesori untuk anak-anak hingga remaja. 

Tak hanya berbisnis, Dewi juga memperhatikan aspek lingkungan dalam menjalankan usahanya. Ia mengusung konsep sustainable batik alias batik berkelanjutan dan zero waste, untuk mengurangi limbah batik.

Dewi memastikan, limbah atau sisa kain batik hingga bagian terkecilnya diubah menjadi berbagai produk. Salah satunya yang paling diminati adalah boneka batik yang diolah dari kain perca. 

 

Boneka batik ini bahkan diminati oleh pembeli dari Jepang saat pameran Festival UMKM Merdeka yang diikutinya melalui program pemberdayaan UMKM PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), yaitu Sampoerna Enterpreneurship Training Center (SETC). Festival UMKM Merdeka diadakan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) pada 28 Juli-1 Agustus 2023 di Grand Indonesia, Jakarta. 

Memanfaatkan limbah kain sisa hasil produksi Dewi menjelaskan, pilihan menerapkan konsep zero waste atas kain-kain batik sisa produksi karena ingin berkontribusi mengurangi jumlah sampah/limbah batik. 

"Kami mengusung konsep sustainable batik yang merupakan upaya dan inovasi untuk memproduksi produk dengan tidak membuang sisa-sisa hasil produksi. Sisa-sisa hasil produksi tersebut diolah menjadi berbagai produk seperti batik anak, aksesori, tas, dan produk batik lainnya yang ramah lingkungan dan tetap menjaga nilai budaya Indonesia," papar Dwi.

Di tangan Dewi, kain-kain perca batik itu diolah kembali menjadi produk berdaya guna hingga bagian terkecilnya. "Sampai potongan terkecil menjadi kalung anak. Walau dari limbah kain, tapi tetap aman dan nyaman karena produk Ghawean Dewe telah memiliki sertifikat SNI," kata dia. 

Produk yang dihasilkan Ghawean Dewe juga memperhatikan kualitas hingga bisa diturunkan kepada generasi berikutnya. Ia mencontohkan, pakaian bisa diturunkan kepada adik atau saudara, demikian pula boneka dan aksesori lainnya. Di sinilah prinsip berkelanjutan (sustainable) itu terjadi.  

Bisnis yang dijalani Dewi saat ini merupakan buah dari ketekunan dan passion yang dirawatnya sejak dari bangku kuliah. Jalan dan cerita yang panjang. Dewi mengisahkan, ia belajar memasarkan dan menjual produk kreasi temannya saat kuliah karena kebutuhan untuk bertahan hidup. Dewi dan temannya, yang saat itu kuliah di salah satu perguruan tinggi di Padang, Sumatera Barat, tak bisa hanya mengandalkan uang kiriman orang tuanya.

Melihat produk-produk kreasi temannya, Dewi mengajaknya berkolaborasi dan berperan menjual produk tersebut. "Teman saya itu bisa bikin produk seperti bros, apa pun yang dari kain. Tapi dia enggak bisa jualan. Jadi saya yang jual," katanya mengenang perjuangan masa lalu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement