Selasa 05 Sep 2023 05:57 WIB

Etika dan Kesopanan di Indonesia Perlahan Luntur, Benarkah?

Perlunya contoh atau teladan positif, baik dalam perilaku, etika, dan kesopanan.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Menghormati orang tua (ilustrasi).
Foto: Wordpress.com
Menghormati orang tua (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurul Zuriah menilai, saat ini anak muda di Indonesia terlihat mulai melupakan kesopanan dan etika terhadap lingkungan sosial mereka. Tata krama, peradaban, dan kesusilaan perlahan juga mulai luntur dan hilang seiring berkembangnya waktu.

Nurul berpendapat hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang terjadi karena beberapa faktor. Beberapa di antaranya seperti pengaruh media sosial, kurangnya pengawasan orang tua, tidak adanya pendidikan etika, dan meluasnya budaya konsumerisme.

"Termasuk juga kurangnya contoh positif serta perkembangan teknologi dan kehidupan yang berubah begitu cepat," katanya.

Untuk mengatasi ini, lanjut dia, lembaga pendidikan dan keluarga berperan besar. Terutama untuk membentuk nilai-nilai, karakter, dan moral generasi muda. Kolaborasi antara keduanya sangat diperlukan untuk menghadapi fenomena ini.

Menurut Nurul, ada beberapa strategi dapat diimplementasikan oleh lembaga pendidikan. Misalnya dengan pengajaran nilai etika dan sosial sehingga sekolah harus mampu mengintegrasikan pelajaran tentang nilai-nilai etika, kesopanan, dan keterampilan sosial dalam kurikulum.

Ini dapat dilakukan melalui pelajaran khusus, seminar, atau bahkan pengalaman praktis. Pada pengembangan program karakter, sekolah dan perguruan tinggi dapat membuat program khusus yang bertujuan mengembangkan kepribadian siswa.

Di dalamnya memuat nilai-nilai kesopanan, empati, kerja sama, dan integritas. Diskusi tentang isu-isu etika dan moral kontemporer juga bisa jadi salah satu pemantik yang melatih cara berpikir kritis.

Hal tersebut terjadi tentang dilema moral dan mengasah kemampuan mengambil keputusan etis.  Selain itu, siswa juga perlu dilatih dalam keterampilan sosial, seperti komunikasi yang efektif, penyelesaian konflik dan kerjasama.

"Ini agar mereka siap menghadapi interaksi dunia nyata," ungkapnya. Dari sisi orang tua, Nurul menegaskan perlunya contoh atau teladan positif, baik dalam perilaku, etika, dan kesopanan.

Orang tua harus mempraktikkan nilai-nilai ini dalam interaksi sehari-hari agar anak-anak mencontoh perilaku yang benar. Orang tua perlu membangun pula komunikasi terbuka dengan anak-anak sehingga memungkinkan mereka untuk membahas isu-isu etika dan moral serta mengajukan pertanyaan.

Pengawasan konten digital juga harus dilakukan. Akses anak-anak ke konten digital yang tidak pantas dan tidak sesua dengan etika dan norma sosial harus dibatasi.

Menurut dia, penting untuk melibatkan berbagai pihak. Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga, maka ini dapat mengatasi tantangan hilangnya kesopanan dan etika pada anak-anak zaman sekarang.

Kesadaran dan pendekatan yang holistik sangat penting untuk membentuk generasi yang memiliki karakter beretika yang kuat dan mampu berinteraksi dengan sopan dan hormat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement