Sabtu 09 Sep 2023 17:45 WIB

Korban Tewas Gempa Maroko Tembus 632 Jiwa

Belum ada laporan tentang adanya WNI yang menjadi korban.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Fernan Rahadi
Warga mencari keselamatan di luar ruangan usai terjadinya gempa di Rabat, Maroko, Jumat (8/9/2023) waktu setempat.
Foto: EPA-EFE/Jalal Morchidi
Warga mencari keselamatan di luar ruangan usai terjadinya gempa di Rabat, Maroko, Jumat (8/9/2023) waktu setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT -- Korban gempa di Maroko telah meningkat menjadi sedikitnya 632 jiwa. Sementara itu korban luka sudah mencapai 392 orang. Jumlah korban diperkirakan akan bertambah karena proses pencarian korban masih berlangsung.

Dilaporkan laman Al Arabiya, proses evakuasi dan pencarian korban masih terkendala karena jalan-jalan di sekitar pusat gempa di daerah pegunungan tertimbun oleh reruntuhan dan bebatuan. Saat ini, otoritas Maroko masih berupaya mengirimkan bantuan dan ambulans ke lokasi-lokasi terdampak.

Baca Juga

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa melanda Maroko pada Jumat (8/9/2023) malam pukul 23:11 waktu setempat. Guncangan gempa bermagnitudo 6,8 berlangsung selama beberapa detik. Terdapat gempa susulan berkekuatan 4,9 skala Richter 19 menit kemudian.

Pusat gempa dilaporkan berada di dekat kota Ighil di Provinsi Al Haouz, sekitar 70 kilometer selatan Marrakesh. Menurut USGS, pusat gempa berada di 18 kilometer di bawah permukaan bumi. Sementara badan seismic Maroko menyebut pusat gempa berada pada kedalaman delapan kilometer.

 

Menurut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha, setidaknya hingga Sabtu (9/9/2023) pukul 13:00 WIB, belum ada laporan tentang adanya WNI yang menjadi korban gempa Maroko. Dia mengungkapkan, terdapat sekitar 500 WNI di negara tersebut.

"KBRI Rabat telah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan komunitas Indonesia. Hingga saat ini tidak terdapat informasi adanya korban WNI," kata Judha dalam keterangan tertulisnya yang diterima Republika.

"Delegasi Indonesia di Marrakesh yang sedang mengikuti The 10th International Conference on UNESCO Global Geoparks 2023, juga terpantau aman,” tambah Judha dalam keterangannya.

Judha mengungkapkan, KBRI Rabat akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak mengenai kemungkinan adanya WNI yang terdampak gempa. Hotline KBRI Rabat dapat dihubungi pada nomor +212 661 095 995.

Gempa bumi relatif jarang terjadi di Afrika Utara. Kepala Departemen Pemantauan dan Peringatan Seismik di Institut Geofisika Nasional Lahcen Mhanni mengatakan kepada 2M TV bahwa gempa tersebut merupakan yang terkuat yang pernah tercatat di kawasan pegunungan. Pada 1960, gempa berkekuatan 5,8 skala Richter melanda dekat kota Agadir di Maroko dan menyebabkan ribuan kematian.

Gempa Agadir mendorong perubahan peraturan konstruksi di Maroko. Namun banyak bangunan, terutama rumah di pedesaan, tidak dibangun untuk menahan guncangan tersebut. Pada 2004, gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter di dekat kota pesisir Mediterania Al Hoceima menyebabkan lebih dari 600 orang tewas. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement