Senin 09 Oct 2023 15:53 WIB

Jelang Musim Hujan, BPBD Cilacap Gencar Sosialisasi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Perlu penguatan ketangguhan masyarakat melalui pembentukan desa tangguh bencana.

Sejumlah warga membersihkan material longsor yang menimbun rumah warga (ilustrasi)
Foto: IDHAD ZAKARIA/ANTARA
Sejumlah warga membersihkan material longsor yang menimbun rumah warga (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan upaya antisipasi bencana hidrometerologi yang berpotensi terjadi pada musim hujan

"Kami melalui UPT (Unit Pelaksana Teknis) BPBD terus melakukan sosialisasi antisipasi bencana hidrometeorologi, termasuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan yang masih berpotensi terjadi," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Cilacap Slamet Arief Praptomo di Cilacap, Senin (9/10/2023).

Ia mengatakan hal itu karena berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG, wilayah Cilacap secara umum telah memasuki musim hujan. Bahkan, kata dia, sebagian wilayah barat Kabupaten Cilacap telah turun hujan meskipun masih bersifat sporadis.

Berdasarkan hasil pemetaan, di Kabupaten Cilacap terdapat 131 desa/kelurahan di 21 kecamatan rawan banjir dan rob, 94 desa/kelurahan di 12 kecamatan rawan longsor atau tanah bergerak, dan 86 desa/kelurahan di 17 kecamatan rawan angin kencang.

Terkait dengan hal itu, pihaknya melakukan penguatan ketangguhan masyarakat melalui pembentukan desa tangguh bencana (destana).

Hingga saat ini, BPBD Cilacap telah membentuk 51 destana, delapan destana di antaranya desa rawan banjir di enam kecamatan, dan 10 destana merupakan desa rawan longsor di lima kecamatan.

Selain itu, kata dia, sarana dan prasarana penanganan bencana hidrometeorologi telah ditempatkan di masing-masing UPT BPBD, termasuk membentuk posko penanggulangan bencana di setiap kecamatan.

"Kami juga menyiapkan enam rumah panggung sebagai tempat pengungsian yang diprioritaskan di wilayah paling rawan bencana banjir, seperti di Panulisan, Pahonjean, dan Cipari," ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah perbukitan segera menutup rekahan tanah yang mengering akibat kemarau dengan tanah liat agar tidak kemasukan air ketika terjadi hujan.

Menurut dia, rekahan tanah di daerah perbukitan atau tebing berisiko longsor jika kemasukan air hujan. "Kami berharap dengan adanya sosialisasi secara intensif dan pembentukan destana, risiko bencana dapat diminimalisasi," kata Arief.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cilacap Budi Setyawan mengatakan hingga Ahad (8/10), pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih 604 tangki yang bersumber dari APBD Kabupaten Cilacap 2023.

Bantuan air bersih tersebut disalurkan kepada 15.235 keluarga yang terdiri atas 45.898 jiwa di 59 desa di 17 kecamatan yang terdampak kekeringan pada musim kemarau.

"Kami akan terus menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan karena musim hujan secara umum diprakirakan akan berlangsung mulai Bulan November," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement