Rabu 11 Oct 2023 06:06 WIB

Rupiah Melemah, Kondisi Perbankan Dipastikan Masih Kuat

Net exposure untuk foreign currency perbankan dilihat dari rasio PDN sangat rendah.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Fernan Rahadi
Ilustrasi Uang Rupiah
Foto: dok. Pixabay
Ilustrasi Uang Rupiah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini sudah melakukan evaluasi terhadap dampak pelemahan rupiah. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menuturkan stress test sudah dilakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut. 

"OJK maupun perbankan telah melakukan stress test secara rutin untuk mengetahui ketahanan perbankan baik dari sisi solvency maupun liquidity," kata Dian, Selasa (10/10/2023). 

Baca Juga

Dian menegaskan, hal tersebut juga termasuk memperhitungkan faktor pelemahan rupiah. Selain itu juga disertai pemburukan faktor makroekonomi lainnya dalam skenario utama. 

"Berdasarkan hasil stress test, kondisi perbankan masih kuat dalam menghadapi pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini," ucap Dian. 

Sebagai informasi, Dian mengatakan berdasarkan data Agustus 2023, net exposure untuk foreign currency di perbankan yang dilihat dari rasio Posisi Devisa Netto (PDN) tergolong sangat rendah sebesar 1,72 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari threshold sebesar 20 persen. 

"Hal ini mengindikasikan bahwa eksposure terbuka bank dalam valas relatif rendah terhadap permodalan bank," ujar Dian. 

OJK memastikan sektor jasa keuangan nasional terjaga stabil. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2023. 

"Hal ini didukung dengan permodalan yang kuat, kondisi likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga sehingga meningkatkan optimisme bahwa sektor jasa keuangan nasional mampu memitigasi risiko higher for longer suku bunga global," kata Mahendra dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK September 2023, Senin (9/10/2023). 

Mahendra menjelaskan, divergensi kinerja perekonomian global masih terus berlanjut. Dia menuturkan, inflasi di Amerika Serikat (AS) masih tinggi di tengah solidnya kinerja perekonomian yang mendorong kebijakan bank sentral The Fed yang diprediksi akan lebih hawkish. 

Sementara di Eropa, Mahendra menyebut, meskipun kinerja perekonomian terus melemah dan tingkat inflasi yang masih membuat otoritas moneter Eropa kembali menaikan suku bunganya. Hal tersebut menurutnya mengisyaratkan tingkat suku bunga saat ini telah mencapai puncaknya. 

Lalu di Cina, Mahendra mengatakan, pemulihan ekonomi yang belum sesuai ekspektasi dan kinerja ekonomi yang masih di level pandemi meningkatkan kekhawatiran. Khususnya bagi pemulihan perekonomian global. 

"Insentif fiskal dan moneter yang dikeluarkan otoritas Cina masih terbatas," tutur Mahendra. 

Mahendra menilai, perkembangan-perkembangan tersebut mendorong berlanjutnya kenaikan yield surat utang di Amerika Serikat. Begitu juga dengan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap semua mata uang dunia utama lainnya dan negara-negara berkembang. 

"Ini menyebabkan tekanan outflow dari pasar emerging markets termasuk Indonesia. Volatilitas di pasar keuangan baik di pasar saham, obligasi, dan nilai tukar juga dalam tren yang meningkat," ungkap Mahendra. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement