Sabtu 14 Oct 2023 16:38 WIB

DBD Turun Saat Kemarau Panjang, Warga Yogyakarta Diminta Tetap Waspada

Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia juga sudah mencapai 80 persen.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab penyakit DBD( (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab penyakit DBD( (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menyebut bahwa kasus demam berdarah dengue (DBD) turun signifikan. Hingga September 2023, dilaporkan ada 48 kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan 2022 yang tercatat 150 kasus. Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan, penurunan kasus DBD ini dikarenakan kemarau panjang yang terjadi saat ini.

Selain itu, menurutnya penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta  juga dikarenakan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia sudah mencapai 80 persen. Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia ini sudah dilakukan sejak 2017 lalu di Kota Yogyakarta, dan dinilai efektif menurunkan angka kasus DBD di 45 kelurahan yang ada di Kota Yogyakarta.

"Bakteri Wolbachia yang dimasukkan dalam nyamuk Aedes Aegypti pembawa DBD bisa menekan penyakit, sehingga angka kasus DBD di tahun ini sedang turun selain diakibatkan oleh musim kemarau yang panjang," kata Endang, Jumat (13/10/2023).

Meski terjadi penurunan kasus, Endang mengimbau agar warga tetap mewaspadai DBD ini. Terutama saat akan memasuki musim hujan.

Endang menuturkan antisipasi DBD dapat dilakukan dengan terus menjaga kesehatan melalui Reuse, Reduce, dan Recycle (3R) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu, Endang juga mengajak masyarakat khususnya di Kota Yogyakarta untuk terus menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

"Walaupun angka menurun dibandingkan dengan tahun lalu, kami terus mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), PHBS dan 3R agar kasus DBD di Kota Yogyakarta dapat diantisipasi sejak dini," ujarnya.

Tidak hanya itu, menanggulangi DBD dengan metode 4M plus yakni menguras, mengubur, menutup dan memantau juga dapat dilakukan. Dengan begitu, jentik nyamuk Aedes Aegypti tidak berkembang biak di tempat penampungan air.

“Selain terus memberikan sosialisasi penerapan PHBS dan PSN, kami secara rutin mengajak sekolah untuk memanfaatkan ember yang ada menjadi bak mandi (emberisasi) untuk mencegah adanya Aegypti pembawa DBD di lingkungan sekolah," jelas dia.

Endang juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala DBD, agar mendapatkan penanganan medis. Seperti demam tinggi dan menggigil, sakit kepala, bahkan terdapat bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement