Selasa 24 Oct 2023 14:56 WIB

Pemerintah Gandeng Penggilingan Padi untuk Stabilisasi Harga Beras

Sudah disiapkan 200 ribu ton ke penggiling padi pengusaha.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Yusuf Assidiq
Pekerja mengangkut beras di penggilingan padi Kampung Kubang Mas, Kecamatan Warungjaud, Serang, Banten.
Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman
Pekerja mengangkut beras di penggilingan padi Kampung Kubang Mas, Kecamatan Warungjaud, Serang, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perwujudan ekosistem perberasan nasional yang memiliki kestabilan di semua lini, senantiasa menjadi perhatian pemerintah. Dalam hal ini, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menjadi tumpuan dalam membentuk dan menjaga kestabilan harga mulai dari tingkat petani, penggilingan, hingga pedagang.

Kepala NFA/Plt Menteri Pertanian (Mentan) Arief Prasetyo Adi menyatakan hal itu pada pembukaan Business Meeting dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPP PERPADI) di Surakarta, Senin (23/10/2023).

"Jadi perintah Bapak Presiden Joko Widodo ke saya adalah membentuk ekosistem pangan dengan menghubungkan end to end. Mulai dari kementerian, lembaga, asosiasi, swasta, BUMN, sampai pihak di pasca panen seperti penggilingan padi. Semuanya bahu membahu. Utamanya untuk penguatan stok dan kestabilan harga di pasar," ujar Arief.

Lebih lanjut, diungkapkan telah ada strategi yang solutif untuk membantu kondisi penggilingan padi tersebut. Ia mengatakan upaya membanjiri pasar dengan beras dari Perum Bulog, termasuk ke penggilingan padi menjadi langkah tercepat.

"Untuk percepatan stabilisasi harga, sudah kami siapkan 200 ribu ton ke penggiling padi pengusaha, tetapi bukan pedagang. Nanti harganya sama-sama kita siapkan. Ini supaya membantu distribusi beras secepatnya ke masyarakat," katanya.

Sebagaimana diketahui, stok beras komersial Bulog sebanyak 200 ribu ton akan dikucurkan langsung ke penggilingan padi secara nasional. Langkah ini untuk melengkapi upaya-upaya intervensi pemerintah yang telah digencarkan selama ini demi percepatan penurunan harga beras yang masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Ini merupakan langkah tercepat yang bisa kita lakukan. Tugas NFA adalah memastikan stok itu tersedia dan ada. Jadi stok Bulog itu kita siapkan tidak boleh di bawah dari satu juta ton. Saat ini stok Bulog ada 1,4-1,5 juta ton. Jadi kita mau pastikan nanti saat Pemilu 14 Februari, semua stok kita cukup, bahkan sampai ke 9 April," jelas dia.

 

Berdasarkan pantauan pada panel harga pangan yang dikelola NFA, harga beras medium di pasaran kembali menggambarkan kondisi yang semakin kondusif. Terpantau harga beras medium per 23 Oktober tercatat Rp 13.190 per kg.

Ini menandakan ada penurunan 30 poin dibandingkan harga beras sejenis di 1 Oktober yang berada di Rp 13.220 per kg. Selanjutnya perkembangan harga beras medium IR-III di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) kembali mencatatkan adanya depresiasi.

Terpantau pada 20 Oktober harga beras di PIBC tercatat Rp 10.996 per kg. Ini mengalami penurunan secara gradual dibandingkan harga 1 Oktober yang berada di 11.331 per kg.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement