Jumat 27 Oct 2023 07:31 WIB

Menag Minta Madrasah Adaptif Terhadap Teknologi Digital

Gus Men mendorong para guru madrasah untuk lebih progresif dan inovatif.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Fernan Rahadi
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas
Foto: republika
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas

REPUBLIKA.CO.ID, REMBANG -- Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta madrasah bertransformasi sebagai lembaga yang bukan terpaku pada keilmuan agama saja. Namun, madrasah juga harus mampu adaptif terhadap teknologi digital.

Hal ini disampaikan Menag saat menjadi narasumber pada kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang digelar di Rembang, Jawa Tengah. Adaptif terhadap teknologi, menurut Menag, juga menjadi bentuk implementasi transformasi digital yang merupakan program prioritas Kementerian Agama.

"Dunia itu terus bergerak. Jadi madrasah tidak boleh hanya terpaku dengan ilmu tafaqquh fiddin untuk menciptakan kader-kader agama. Namun harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, bisa gagah menghadapi perkembangan zaman,” kata Menag Yaqut dalam keterangan yang diperoleh Republika, Jumat (27/10/2023).

Menag juga mendorong para guru madrasah untuk lebih progresif dan inovatif. Kegiatan Ngopi disebut dapat menjadi sarana para Kepala Madrasah dan guru untuk saling berkomunikasi, agar pendidikan lebih berkembang.

 

Pria yang akrab disapa Gus Men ini lantas mengingatkan bahwa ada empat dimensi yang perlu dimiliki madrasah saat ini, untuk dapat bertransformasi. Empat dimensi yang dimaksud adalah dimensi kognitif, dimensi spiritual, dimensi estetika dan dimensi fisik.

Dimensi kognitif dijelaskan harus dimiliki madrasah, untuk membangun daya pikir dan meningkatkan pengetahuan siswa madrasah. Contohnya, ada metodologi belajar Matematika yaitu ‘Gasing’, yang merupakan singkatan dari Gak Pusing.

"Dengan Gasing ini, siswa madrasah tidak lagi dijejali dengan rumus-rumus matematika. Tapi diajari bagaimana melogikakan angka-angka dalam Matematika," kata Gus Men di hadapan para kepala madrasah.

Kedua, dimensi spiritual, yang mana mutlak dimiliki oleh siswa madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan. Ketiga, dimensi estetika, yang mana dengan dimensi ini anak-anak diharapkan memiliki nilai seni.

Ketika peserta didik sudah memiliki kecerdasan, maka nilai-nilai spiritual dan seni harus dimiliki pula oleh siswa. Hal ini disampaikan agar menjadi lebih indah.

Terakhir, dimensi fisik, yang menurut Gus Men siswa madrasah tidak boleh lemah dan harus sehat. Karena itu, gizi anak-anak di madrasah harus dijaga.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Men juga mengapresiasi perkembangan madrasah di Indonesia, yang memiliki keunggulan dibandingkan sekolah umum.

"Dulu madrasah dianggap sebelah mata, hanya pelengkap. Tapi sekarang madrasah sudah menjadi destinasi pendidikan," ujar dia.

Bahkan, ia menyebut ada madrasah yang masuk dalam urutan lima besar sekolah terbaik di Indonesia. Ini merupakan capaian yang harus diduplikasi oleh madrasah lainnya.

"Madrasah-madrasah kita banyak yang unggul. MAN IC Serpong adalah terbaik pertama di Indonesia, dan MAN IC Pekalongan adalah terbaik ketiga di Indonesia," ucap Gus Men.

MAN IC Serpong dan MAN IC Pekalongan disebut merupakan madrasah yang mampu bersaing dengan SMA dalam mencetak kader-kader intelektual. Hal seperti ini menurut dia harus dipertahankan.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement