Selasa 14 Nov 2023 04:46 WIB

Mengapa Masyarakat Indonesia Bisa Terjebak Judi Online?

Problem ini tidak sesederhana masalah kelas ekonomi.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Judi online (ilustrasi).
Foto: Freepik
Judi online (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah merilis total kerugian negara akibat judi online ditaksir mencapai Rp 138 triliun. Angka ini menunjukkan ironi yang memprihatinkan mengingat kondisi ekonomi masyarakat tak kunjung menunjukkan perbaikan secara signifikan.

Mengetahui hal tersebut, Pengamat Isu Cyberpsychology Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Aransha Karnilla Nadia Putri menyampaikam, keterlibatan seseorang pada judi online sangat erat kaitannya dengan salah satu cabang dari psikologi sosial, yakni cyberpsychology. "Yakni kajian yang fokus utamanya pada perilaku manusia khusus di dunia digital," ucapnya.

Penyebab utama hadirnya fenomena itu adalah berbagai perilaku 'khas' masyarakat Indonesia yang seolah memberikan ruang terbuka untuk hal ini masuk. Kemudian pada akhirnya terjebak dan sulit untuk menghentikannya. Masyarakat suka sekali dengan fear of missing out (FOMO), suka ikut-ikutan tetapi tidak tahu apa urgensi dan dampaknya. 

Dalam psikologi popularitas terdapat istilah bandwagon effect, yakni kecenderungan yang mengatakan bahwa 'yang ramai dan banyak dilakukan oleh orang lain, berarti benar'. Bias seperti ini yang memunculkan fenomena ini mudah menyebar. Apalagi jika sesuatu yang populer tersebut dibawa seorang influencer ternama sehingga akan sangat mudah masyarakat percaya dan bahkan mengikutinya.

 

Aransha mengatakan, berbagai perusahaan yang mengembangkan situs judi online juga memiliki sumber daya yang melimpah untuk melakukan promosi secara masif. Persepsi individu tentang judi online ditanamkan secara perlahan. "Bisa dilihat dari munculnya ratusan ribu website dengan iklan judi online, yang pasti perlahan-lahan akan masuk ke dalam otak individu yang melihatnya," jelasnya dalam pesan resmi yang diterima Republika. 

Fenomena judi online juga memberikan dampak besar terhadap perubahan perilaku individu. Para pelaku judi online yang sudah mulai terpapar adiksi akan cenderung secretive. Ia akan menutupi perilakunya agar tidak ketahuan oleh orang lain. Selain itu, ia akan memanfaatkan sekecil apapun kesempatan untuk memainkan permainan haram tersebut.

Dosen psikologi itu menambahkan, efek suara dan berbagai istilah catchy seperti ‘gacor’ dalam permainan slot, dapat menghasilkan hormon dopamin yang menghasilkan kebahagiaan. Itu menjadi alasan mengalam mereka yang sudah mencoba judi online akan terus menerus memainkannya. Mereka berharap mendapatkan kebahagiaan dengan cara instan. 

Menurutnya, masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah cenderung berpikir jangka pendek terutama yang berkaitan dengan pengelolaan finansial. Meski begitu, problem ini tidak sesederhana masalah kelas ekonomi. Ia berharap seluruh lapisan masyarakat bekerja sama untuk membantu memberantas perilaku ini, dimulai dari diri sendiri, orang-orang terdekat, hingga lingkup yang lebih luas lagi.

"Pada intinya tingkatkan literasi finansial, hiduplah di dunia nyata, dan bersosialisasi. Dengan begitu, tidak ada kesempatan untuk kita memainkan permainan haram tersebut," ungkap dia.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk berperan aktif memberantas kasus ini. Hal ini dimulai mulai dari memblokir situs hingga membawa narasi yang mengedukasi masyarakat. Dengan demikian, rantai fenomena ini dapat diputus mulai dari akarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement