Ahad 26 Nov 2023 08:22 WIB

Mimbar Kebudayaan PWM DIY Ajang Konsolidasi Seniman dan Budayawan

Dihadirkan pula aneka seni budaya yang kreatif dan variatif.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Mimbar Kebudayaan Lembaga Seni Budaya (LSB) yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY.
Foto: Dokumen
Mimbar Kebudayaan Lembaga Seni Budaya (LSB) yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menggelar Mimbar Kebudayaan Lembaga Seni Budaya (LSB). Kegiatan ini digelar dengan diskusi yang turut disajikan berbagai seni budaya, khususnya budaya Jawa.

Ketua LSB PWM DIY, Dian Koprianing Nugraha mengatakan, kegiatan tersebut merupakan media konsolidasi bagi seniman dan budayawan se-DIY sebelum menyambut 2024. Dian juga sempat membawakan dua puisi berbahasa Jawa bertema pemilu dan kerukunan.

“Kami berharap di tahun-tahun selanjutnya suasana seni budaya dapat menghidupkan gerakan-gerakan Muhammadiyah,” kata Dian.

 

 

Acaea diawali dengan pembacaan ayat Alquran, di mana terjemahan ayat disajikan dalam tembang berbahasa Jawa. Kegiatan yang digelar di Gedung Aula PWM DIY ini turut dihadiri oleh sejumlah budayawan di DIY.

Wakil Ketua PWM DIY, Iwan Setiawan menuturkan, selama ini Muhammadiyah sering dianggap antibudaya karena gerakan perlawanannya terhadap tahayul, bid'ah, churafat (TBC). Iwan menegaskan adanya LSB di Muhammadiyah menjadi bukti yang membantah hal tersebut.

Dalam sambutannya, Iwan juga membacakan satu puisi bertema sejarah Muhammadiyah. "Saya bukan pelaku budaya, tapi saya sangat cinta terhadap budaya khususnya untuk dapat mewarnai Muhammadiyah dan masyarakat," kata iwan.

Budayawan, Mustofa W Hasyim yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menyampaikan khotbah kebudayaan. Ia mengungkapkan hasil analisisnya mengenai perubahan perkembangan seni budaya di seluruh kota dan kabupaten se-DIY.

Menurutnya, terdapat kondisi yang beragam yang dihadapi setiap daerah. Bahkan, Mustofa memberikan pertanyaan kepada hadirin dalam khotbahnya terkait “Apakah kita di Muhammadiyah sudah terlibat dalam perubahan kebudayaan itu? Kalau di Twitter, kita itu leader atau follower?"

“Tugas kita sekarang adalah mengubah diri kita dari follower menjadi leader, dari loser menjadi winner,” ujarnya.

Untuk itu, Mustofa menegaskan agar Muhammadiyah perlu mempertemukan spirit beragama dengan ekspresi beragama dengan terus mengasah daya kreatif dan kolaboratif. Khotbah kebudayaan yang disampaikan pun menjadi pemantik dan dorongan bagi para pegiat seni budaya Muhammadiyah DIY.

Mustofa juga mengapresiasi Mimbar Kebudayaan tersebut karena menyajikan berbagai seni budaya yang kreatif dan variatif. Seperti menampilkan macapat Bambang Sugeng Haryanto (anggota LSB PWM DIY), musik akustik dari grup Cah Angon, serta pembacaan puisi kolaborasi guru dan siswa SD Muhammadiyah Karangkajen.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement