Jumat 01 Dec 2023 09:35 WIB

BEI Nyatakan Wakaf Hutan Berpotensi Hasilkan Karbon Kredit

Karbon kredit merupakan upaya mitigasi perusahaan guna menurunkan emisi dunia.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fernan Rahadi
Head of Business Development Indonesia Stock Exchange, Ignatius Denny Wicaksono saat sesi kedua talkshow Hutan Wakaf di Jakarta, Kamis (30/11/2023). Talkshow tersebut mengangkat tema Meningkatkan Dukungan untuk Solusi Iklim dari Masyarakat Khususnya dalam Pembiayaan Iklim yang Inovatif. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara peluncuran Mosaic sekaligus Anugerah Syariah Republika (ASR) 2023.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Head of Business Development Indonesia Stock Exchange, Ignatius Denny Wicaksono saat sesi kedua talkshow Hutan Wakaf di Jakarta, Kamis (30/11/2023). Talkshow tersebut mengangkat tema Meningkatkan Dukungan untuk Solusi Iklim dari Masyarakat Khususnya dalam Pembiayaan Iklim yang Inovatif. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari acara peluncuran Mosaic sekaligus Anugerah Syariah Republika (ASR) 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakaf hutan dinilai berpotensi menghasilkan karbon kredit. Dengan begitu, bisa semakin mendukung penurunan emisi global. 

Executive Vice President Business Development Bursa Efek Indonesia (BEI) Ignatius Denny Wicaksono mengatakan, karbon kredit merupakan upaya mitigasi yang dilakukan perusahaan guna menurunkan emisi di dunia. Wakaf hutan pun, menurut dia, memiliki tujuan sama. 

Baca Juga

"Dari wakaf hutan, ingin tahan laju kredit dengan karbon kredit emisi dengan hutan itu. Jadi saya lihat ini hal menarik, kalau bisa diteruskan menjadi karbon kredit," ujarnya kepada Republika saat ditemui usai Talkshow Wakaf Hutan yang digelar Republika bersama Mosaic di Jakarta, Kamis (30/11/2023).

Ia melanjutkan, jika wakaf hutan bisa menghasilkan karbon kredit, manfaat atau nilai wakaf bisa diberikan kembali ke penerima manfaat. Apalagi, sambungnya, penetapan harga atau pricing dari karbon kredit hutan menarik bagi pembeli.

 

"Pricing dari karbon kredit menarik. Pembeli melihat quality arbsorb (menyerap) emisi lebih tinggi. Lalu ada additional benefit, mendukung lingkungan di sekitarnya, sosial aspek wakaf bantu sosial, jadi wakaf hutan sangat potensial," kata Denny menjelaskan.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia baru memiliki bursa karbon di bawah naungan BEI. Ia menuturkan, karena bursa tersebut terbilang baru, maka sosialisasi terus digencarkan.

Jumlah perusahaan yang mendaftar bursa karbon pun, kata dia, terus bertambah setiap hari. Sejak 26 November lalu, pendaftar mencapai sekitar 60-an perusahaan.

Saat ini Republika bersama Mosaic dan menggandeng Hutan Wakaf Bogor juga tengah mengimplementasikan program Wakaf Hutan. Diharapkan kolaborasi itu bisa menjadi salah satu upaya efektif mengatasi krisis iklim.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement