Senin 04 Dec 2023 10:19 WIB

Saat Ilmu Matematika dan Seni Batik Berpadu, Seperti Ini Hasilnya

Penggunaan canting cap kristalografi memiliki beberapa keunggulan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
 Rektor Undip, Prof Yos Johan Utama, mencoba melakukan pengecapan pada proses pembuatan batik pada saat acara launcing batik Dipokrista.
Foto: Dokumen
Rektor Undip, Prof Yos Johan Utama, mencoba melakukan pengecapan pada proses pembuatan batik pada saat acara launcing batik Dipokrista.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Seni batik dengan ilmu matematika merupakan dua disiplin yang berbeda. Namun, oleh Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, penggabungan ini mampu menjadi karya batik yang inovatif.

Melalui kegiatan Matching Fund Kedaireka antara FSM Undip, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), dan Batik Nilo Tirto Surakarta, telah dihasilkan karya seni batik inovatif dengan brand 'Dipokrista'.

Dekan FSM Undip, Dr Widowati mengatakan, motif batik Dipokrista dihasilkan dengan menggabungkan disiplin seni dan matematika. Proses produksinya mengedepankan prinsip ekonomi ramah lingkungan.

Kreasi jenis batik cap ini memberikan berbagai pilihan corak yang sangat menarik dan memiliki keunikan tersendiri, karena prosesnya menggunakan satu 'canting' cap inovasi kristalografi.

 

Tujuannya untuk mengenalkan matematika itu juga merupakan seni yang indah, sehingga mahasiswa dapat termotivasi untuk membentuk inovasi yang kreatif dan dapat diaplikasikan ke permasalahan yang nyata.

"Dalam hal ini diaplikasikan untuk desain motif batik," ungkap  Widowati, yang juga ketua Tim Kedaireka FSM Undip, di Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/12/2023).

Keunikan lainnya adalah penggunaan pewarna alami batik Dipokrista yang yang tidak hanya aman bagi kulit tetapi juga tahan lama. Bahkan, seiring berjalannya waktu, warna batiknya akan semakin cerah.

Proses pembuatan batik Dipokrista dimulai dengan mordanting (menghilangkan kain dari kanji dengan membasahi kain dengan air tawas) dan menjemurnya di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Berikutnya dilakukan pengecapan hingga proses akhir yaitu pelorotan. Pewarnaan untuk kain batik ini menggunakan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan seperti dari kulit, kayu, daun,  buah-buahan dan tumbuhan.

Proses pewarnaan dilakukan  dua kali untuk menghasilkan warna- warna yang diinginkan. Pembuatan batik Dipokrista mengandalkan konsep kristalografi dalam transformasi bidang datar.

Konsep ini merupakan implementasi dari transformasi geometri (translasi, rotasi, dan refleksi) sehingga sebuah motif dapat membentuk banyak pola pada karya batik cap.

Saat ini baru ada empat empat motif, yaitu Crop Circle, KrisMa (Kristalografi dan Batima), Bihani, dan UNDIPKu. "Namun dari keempat desain motif dasar itu kita bisa menciptakan ribuan pola atau corak dengan menggunakan transformasi," katanya menjelaskan.

Widowati menambahkan, penggunaan canting cap kristalografi juga memiliki beberapa keunggulan, seperti  menghasilkan beragam pola batik cap.

Selain itu juga memperkaya ragam pola batik cap; biaya produksi batik cap kristalografi menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan canting cap biasa.

Demikian pula metode pengecapan yang diterapkan merupakan peragaan dalam pembelajaran transformasi bidang datar yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Metode pengecapan yang mudah diterapkan oleh perajin batik cap dan proses pembuatan kain batik cap kristalografi tidak berbeda dengan pembuatan kain batik cap pada umumnya.

Yang berbeda pada desain motif ornamen fundamentalnya. Dengan inovasi ini dapat menghemat biaya produksi dan memiliki daya saing di pasaran.

"Dalam pendekatan ekonomi melalui penggunaan pewarnaan alami dari bahan dasar alami, sangat mendukung pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi," tegas Widowati.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement