Rabu 06 Dec 2023 09:46 WIB

Alih Fungsi Lahan Salah Satu Penyebab Jumlah Petani Menyusut

Petani yang dulu bergantung kepada pertanian sudah kehilangan usaha tani.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Petani memanen tanaman padi secara tradisional di persawahan kawasan Minggir, Sleman, DIY.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Petani memanen tanaman padi secara tradisional di persawahan kawasan Minggir, Sleman, DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- BPS mencatat jumlah petani Indonesia mengalami penurunan dari 31 juta petani pada 2013 menjadi 29,3 juta pada 2023. Anggota Komisi IV DPR RI, Hermanto menilai, alih fungsi lahan jadi salah satu penyebab.

"Contoh sederhana, Karawang, pantura, itu dulu lumbung padi, sawah yang luas, tapi kalau kita lihat dari udara hari ini lahan-lahan sawah sudah semakin berkurang banyak," kata Hermanto kepada Republika, Selasa (5/12).

Ia menilai, kondisi yang terjadi di banyak tempat itu dikarenakan lahan-lahan pertanian yang sudah beralih fungsi. Hal itu membuat petani-petani yang dulu bergantung kepada pertanian sudah kehilangan usaha tani mereka.

Hermanto menekankan, memang banyak faktor yang membuat jumlah petani di Indonesia menyusut. Karenanya, ia merasa, ini harus menjadi perhatian bersama karena bahan pokok mayoritas masih produk pertanian.

 

"Bila jumlah petani kita terus berkurang, ada garapan-garapan lahan yang terbengkalai dan bisa berdampak kepada tidak cuma kedaulatan pangan kita, tapi ketersediaan pangan kita, ketahanan pangan kita ," ujar Hermanto.

Maka itu, ia menekankan, ini persoalan serius yang harus diperhatikan. Sebab, Hermanto mengingatkan agar tidak jadi bangsa yang selalu bergantung kepada impor karena menjadikan bergantung ke luar negeri.

Padahal, ia mengingatkan, Indonesia merupakan negara agraris yang bisa memproduksi apa saja karena bisa menanam apa saja sebagai bahan pangan. Hermanto merasa, perlu kebijakan komprehensif dari pemerintahan.

"Terutama, mengatasi pembangunan yang menggunakan lahan-lahan produktif," kata Hermanto. Menurutnya, pemerintah perlu membuat kebijakan-kebijakan yang bisa mempertahankan lahan-lahan sawah yang ada.

Sehingga, tidak semakin mengalami penyusutan yang bisa berdampak kepada produktivitas pangan berkurang. "Sedangkan jumlah penduduk meningkat, nanti tidak selaras, itu yang mengakibatkan kita kekurangan beras, itu jadi cara mudah pelaku usaha mengimpor, ini yang tidak kita inginkan," ujar politisi PKS tersebut.

Sebelumnya, penurunan jumlah petani yang tercatat BPS turut diiringi penurunan produktivitas pertanian di Indonesia. Tahun lalu, produktivitas pertanian tidak mencapai Rp 40 juta per petani dalam satu tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement