Selasa 23 Jan 2024 08:46 WIB

Aktivitas Merapi Meningkat, BPBD DIY Siaga

Kejadian luncuran awan panas guguran (APG) Merapi lebih mengarah ke Boyolali-Klaten.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (12/12/2023). Menurut data BPPTKG periode pengamatan 11 Desember 2023 pukul 00.00-24.00 WIB telah terjadi 24 kali guguran lava dengan jarak luncuran maksimal 1.900 meter ke Kali Bebeng dan tiga kali guguran lava dengan jarak luncur 1.000 meter ke arah Kali Boyong, tingkat aktivitas Gunung Merapi Siaga (level III). A
Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (12/12/2023). Menurut data BPPTKG periode pengamatan 11 Desember 2023 pukul 00.00-24.00 WIB telah terjadi 24 kali guguran lava dengan jarak luncuran maksimal 1.900 meter ke Kali Bebeng dan tiga kali guguran lava dengan jarak luncur 1.000 meter ke arah Kali Boyong, tingkat aktivitas Gunung Merapi Siaga (level III). A

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyebut telah menyiagakan personel terkait antisipasi aktivitas Gunung Merapi. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir aktivitas Merapi mengalami peningkatan.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas Merapi ini. Bahkan, masyarakat DIY diimbau untuk terus waspada, terutama yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) tiga dan dua.

"Kami telah menerima laporan terkait peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Dan sampai hari ini untuk wilayah DIY masih dalam kategori aman. Namun kami mengimbau agar masyarakat, utamanya yang berada di KRB tiga dan dua untuk tetap waspada seandainya status Gunung Merapi meningkat," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad, Senin (22/1/2024).

Noviar menyebut, jika terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi yang membahayakan, masyarakat akan diminta mengungsi ke tempat-tempat yang sudah disiapkan. Meski, untuk sementara ini kejadian luncuran awan panas guguran (APG) Merapi lebih mengarah ke Boyolali-Klaten, dan tidak mengarah ke DIY.

 

"Kami tentu terus siaga, sembari menunggu informasi lanjutan dari BPPTKG DIY terkait kondisi terkini Gunung Merapi. Kami pun sudah memiliki tiga pos acuan, dimana anggota BPBD DIY sendiri berjaga bersama Sar Linmas dan para relawan," ucap Noviar.

Diberitakan sebelumnya, rentetan APG terakhir yang diluncurkan Merapi terjadi pada Ahad (21/1/2024) sebanyak empat kali. Bahkan, APG ini juga menyebabkan penyebaran abu vulkanik mencapai radius 30 kilometer.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso mengatakan bahwa seluruh luncuran APG yang teramati mengarah ke barat daya atau ke Kali Bebeng. "Visual Gunung Merapi berkabut dan arah angin ke timur," kata Agus.

Agus merinci keempat APG tersebut bahwa APG pertama kali terjadi pada pukul 08.25 WIB dengan jarak luncur maksimal sejauh 2.000 meter dan amplitudo maksimum 62 milimeter, serta durasi 191.28 detik.

APG kedua terjadi pada pukul 13.55 WIB, dengan amplitudo maksimum 42 milimeter. Durasinya tercatat 214.40 detik dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.

Sedangkan, APG ketiga terjadi pada pukul 14.12 WIB dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Untuk durasinya mencapai 239.64 detik dengan jarak luncur maksimal 2.400 meter.

APG keempat terjadi pada pukul pukul 17.19 WIB dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. "Durasi 150 detik, jarak luncur maksimal 1.500 meter ke barat daya," ucap Agus.

BPPTKG menyebut bahwa APG saat ini masih menjadi potensi bahaya Merapi, termasuk guguran lava. Saat ini, Merapi juga masih berstatus siaga atau level 3.

Potensi bahaya tersebut pada sektor selatan-barat daya dan pada sektor tenggara. Pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.

Potensi pada sektor tenggara yakni meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan, lanjut BPPTKG, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," jelasnya.

Untuk itu, masyarakat diimbau menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan. Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar dan APG terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

"Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi," ungkap Agus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement