Kamis 29 Feb 2024 22:00 WIB

Warga Gunungkidul Diminta Waspada DBD, Sudah 280 Kasus dan 2 Orang Meninggal

Pasien DBD di RSUD Wonosari, Gunungkidul, disebut meningkat. 

Rep: Antara/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Pasien demam berdarah dengue (DBD) menjalani perawatan di rumah sakit.
Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
(ILUSTRASI) Pasien demam berdarah dengue (DBD) menjalani perawatan di rumah sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL — Warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diminta waspada penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kasus penyakit dari virus yang dibawa nyamuk itu dilaporkan mengalami peningkatan belakangan ini. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, sejak Januari 2024 sampai saat ini, sudah terdata 280 kasus DBD, di mana dua orang meninggal dunia. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan, pihaknya merespons kasus DBD itu dengan melakukan pemeriksaan di tempat tinggal pasien.

Baca Juga

“Kami menerjunkan petugas untuk mengecek lokasi di mana warga yang kedapatan terkena DBD, sehingga bisa diantisipasi penyebarannya,” kata Dewi di Gunungkidul, Kamis (29/2/2024).

Mengantisipasi penyebaran DBD, Dewi mengimbau masyarakat menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala. Masyarakat diminta rutin melakukan gerakan 3M, yaitu rutin menguras atau membersihkan tempat penampungan air, serta menutupnya. Selain itu, membereskan atau mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Warga juga bisa melakukan upaya pencegahan lainnya, seperti memakai obat antinyamuk atau memasang kelambu. “Hal tidak kalah penting untuk mengantisipasi kasus DBD, yakni menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan jika sakit segera ke fasilitas kesehatan,” kata Dewi.

Direktur RSUD Wonosari, Gunungkidul, Heru Sulistyowati, mengatakan, beberapa hari terakhir pasien DBD yang dirawat di rumah sakitnya mengalami peningkatan. Sampai Selasa (27/2/2024), RSUD Wonosari merawat sepuluh pasien DBD. “Pasien DBD yang ditangani RSUD Wonosari terus meningkat,” kata dia.

Menurut Heru, sebagian besar pasien DBD merupakan anak-anak. Bahkan, ruang perawatan anak sampai penuh. “Ruang anak penuh. Kemarin mau memasukkan pasien transfusi darah penuh karena pasien DBD dan pasien penyakit lain, sehingga dititipkan di bangsal lain,” kata Heru.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement