Kamis 07 Mar 2024 19:23 WIB

Sekitar 200 Sapi Terjangkit PMK, Pj Gubernur Jatim Minta Gencarkan Vaksinasi

Satu juta vaksin disediakan untuk mencegah penyebaran PMK.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Petugas menyuntikkan vaksin PMK kepada ternak sapi.
Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
(ILUSTRASI) Petugas menyuntikkan vaksin PMK kepada ternak sapi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Kasus hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jawa Timur (Jatim) mengalami peningkatan pada awal 2024 ini. Mencegah penyebarannya, Penjabat (Pj) Gubernur Jatim Adhy Karyono menggencarkan vaksinasi hewan ternak.

Saat ini dilaporkan ada sekitar 200 sapi di berbagai wilayah Jatim yang terjangkit PMK. “Saat ini ada 200-an (kasus PMK). Sedikit kasus yang terjadi, tapi kita harus menjaga jangan sampai membesar,” kata Adhy, Kamis (7/3/2024).

Baca Juga

Selain PMK, diwaspadai juga penyebaran penyakit lumpy skin disease (LSD). Dalam upaya pencegahan, Adhy menekankan vaksinasi hewan ternak. Kamis ini, ia secara simbolis menyerahkan satu juta vaksin PMK dan 250 ribu vaksin LSD kepada pemerintah daerah di Gedung Dinas Peternakan Provinsi Jatim, Kota Surabaya.

“Tidak perlu masyarakat khawatir bahwa PMK akan menjadi besar kembali karena seiring dengan vaksinasi yang diberikan tentu akan menghambat penularan itu,” kata Adhy.

Adhy mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim akan terus memantau perkembangan kasus penyakit yang menyerang hewan ternak ini. Diharapkan kasusnya tidak terus bertambah.

“Kita tetap waspada. Setiap kali saya mendapatkan data, ada perkembangan ya, walaupun sedikit, tapi harus diwaspadai, jangan sampai terjadi wabah. Untuk mengatasi itu kita harus melakukan vaksinasi,” ujar Adhy.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim Indyah Aryani mengatakan, kondisi cuaca dan lalu lintas hewan ternak yang belum divaksin menjadi faktor yang memicu peningkatan kasus PMK. Ia mengaku sudah meminta dinas terkait di seluruh kabupaten/kota dan para peternak untuk menggencarkan vaksinasi ternak. “Ini untuk memutus mata rantai penyebaran, sekaligus memperketat lalu lintas hewan ternak,” kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement