Jumat 05 Apr 2024 10:56 WIB

Libur Lebaran, Kampung Wisata di Yogya Diharapkan Bisa Jadi Daya Tarik

DPRD DIY meminta pelaku wisata memberikan pelayanan yang baik.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Warga membatik kain di kampung wisata Tamansari, Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
(ILUSTRASI) Warga membatik kain di kampung wisata Tamansari, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diperkirakan kedatangan sekitar 11,7 juta orang pada arus mudik Idul Fitri 2024. DIY juga diprediksi akan ramai dengan orang yang berwisata pada momen libur Lebaran ini.

Kedatangan jutaan pemudik maupun wisatawan itu diharapkan dapat berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Untuk itu, Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto meminta para pelaku wisata agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada para pemudik atau wisatawan.

Baca Juga

“Jutaan pemudik tujuan DIY diperkirakan datang dan mereka jelas berbelanja dan kunjungi objek destinasi wisata. Layani sebaik-baiknya,” ujar Eko, Kamis (4/4/2024). 

Pada momen libur Lebaran, Eko mengharapkan kampung-kampung wisata juga dapat menjadi daya tarik. “Yogyakarta itu dikenal juga karena kulinernya. Hanya memang perlu mendorong wisatawan mampir juga di kampung wisata yang dikelola pokdarwis (kelompok sadar wisata) di perkotaan Yogyakarta. Harus kreatif agar wisatawan mau datang dan berkunjung, tentu dengan fasilitasi oleh pemda, termasuk mengenalkan kearifan lokal yang ada,” kata dia.

Destinasi wisata di DIY tersebar di kabupaten/kota. Seperti di kawasan Dlingo, Kabupaten Bantul. Ketua Koperasi Notowono, Dlingo, Kabupaten Bantul, Purwo Harsono, mengatakan, pihaknya menyiapkan sejumlah paket wisata pada masa libur Lebaran nanti.

“Paket yang kita tawarkan salah satunya desa wisata sahabat rimba atau dewi sari. Sudah siap akomodasi, penginapan. Kita butuh mengenalkan paket wisata berkaitan kearifan lokal masyarakat Yogyakarta, bagaimana bercerita rumah adat dan budaya yang dimiliki. Termasuk paket wisata hidup harmoni dengan alam, merawat alam semesta dengan hubungan upacara adat beserta ekspresi budaya di desa,” kata Purwo.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement