Jumat 07 Jun 2024 16:41 WIB

HUT ke-77 Pemkot Yogyakarta, PJ Wali Kota: Tata Pariwisata dan Persoalan Sampah Jadi PR

Masih banyak potensi wisata yang bisa diangkat di Kota Gudeg.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Suasana Upacara HUT Pemkot Yogyakarta ke-77 di Lapangan Balai Kota Yogyakarta, Jumat (7/6/2024).// Dok: Silvy Dian Setiawan.
Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Suasana Upacara HUT Pemkot Yogyakarta ke-77 di Lapangan Balai Kota Yogyakarta, Jumat (7/6/2024).// Dok: Silvy Dian Setiawan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta masih banyak meski sudah memasuki usia ke-77 tahun pada 7 Juni 2024 ini. Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto mengatakan, pariwisata dan persoalan sampah menjadi PR yang masih harus diselesaikan ke depannya.  

Dikatakan Sugeng, penataan pariwisata perlu dilakukan di Kota Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata. Menurutnya, masih banyak potensi wisata yang bisa diangkat di Kota Gudeg tersebut.  

“Kita harus betul-betul menata betul pariwisata di Kota Yogyakarta, masih banyak sumber-sumber, lokus-lokus wisata yang bisa diangkat,” kata Sugeng saat ditemui di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Jumat (7/6/2024). 

Selain itu, katanya, aspek lainnya yang perlu diperhatikan yakni kehadiran wisatawan yang tidak hanya memberikan dampak positif. Namun, juga ada efek lain dari banyaknya wisatawan yang masuk ke Kota Yogyakarta, terutama saat peak season. 

“Ada side effect yang harus kita antisipasi, seperti kemacetan, penyediaan ruang, penyediaan makanan kalau mereka hadir disini. Karena saat peak season itu masyarakat di Yogya bisa dua kali lipat dari (jumlah) aslinya, ini yang harus kita antisipasi,” ucap Sugeng. 

Selain itu, pihaknya juga tengah gencar untuk menyelesaikan persoalan sampah di Kota Yogyakarta. Terlebih sejak diterapkannya kebijakan desentralisasi sampah pada Mei 2024 lalu di DIY, dimana TPA Regional Piyungan dilakukan penutupan dan tidak menerima sampah dari kabupaten/kota.

“kita belum bisa menuntaskan 100 persen (persoalan sampah), makanya jangan sampai tambahan wisatawan yang kemudian berperilaku tidak baik itu harus diantisipasi. Tapi itu juga harus diawali dengan komitmen masyarakat Kota (Yogya) sendiri. Kalau kita tidak pernah memberikan contoh kepada mereka, bagaimana mereka bisa memahami kalau kita punya pola, punya komitmen, punya aturan (terkait sampah),” katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement