
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Samsul Ma’arif Mujiharto (Dosen Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta; Pendiri-Pengasuh Pondok Pesantren Afkaaruna & Afkaaruna Islamic School, Yogyakarta; Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DIY)
Pada akhir 2023, kekhawatiran para pendidik mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) di ruang kelas semakin nyata. Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, guru mulai menyadari bahwa banyak siswa menggunakan aplikasi seperti ChatGPT untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Seorang guru di California, misalnya, mengaku curiga karena kualitas tulisan murid-muridnya tiba-tiba meningkat drastis, dengan gaya bahasa yang terlalu rapi dan seragam. Kecurigaan itu terbukti: banyak siswa diam-diam menggunakan AI untuk menulis esai mereka.
Temuan ini bukan peristiwa tunggal. Laporan National Education Association (2023) menyebut lebih dari seperempat guru di AS mengaku pernah menangkap siswa menggunakan ChatGPT untuk menyontek. Hasil karya yang terlalu sempurna, yakni tanpa kesalahan, penuh logika, dan tata bahasa bersih, menjadi petunjuk kuat bahwa manusia bukan lagi satu-satunya yang mengerjakan tugas tersebut.
Kecenderungan ini menyiratkan perubahan yang lebih dalam dari sekadar persoalan kejujuran akademik. Fenomena ini juga menggambarkan sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekadar 'akal-akalan siswa'. Kita sedang menyaksikan pergeseran mendasar dalam hubungan antara manusia dan pengetahuan. Jika sebelumnya pendidikan dipahami sebagai proses internalisasi ---belajar, berpikir, memahami, lalu mengekspresikan kembali dalam bahasa dan tindakan---, maka kini proses itu bisa dilompati.
Dengan bantuan AI, siswa bisa 'menyelesaikan' tugas-tugas akademik tanpa melalui proses pembentukan pengetahuan secara sadar. Akibatnya, bukan hanya hasil belajar yang dipertaruhkan, tetapi juga cara berpikir itu sendiri.
Penelitian yang dirilis oleh Alkhatib dkk pada tahun yang sama memperkuat kekhawatiran tersebut. Sebuah studi yang dipublikasikan dan diberi tajuk 'Human vs Machine: Can You Tell Who Wrote This?' tersebut menguji kemampuan siswa dan guru dalam membedakan esai buatan manusia dan AI menunjukkan bahwa sebagian besar gagal mengenalinya dengan akurat.
Kita tak hanya berhadapan dengan teknologi yang cerdas, tetapi dengan teknologi yang semakin tidak bisa dikenali sebagai non-manusia. Dan inilah yang menjadi titik krusialnya: ketika mesin mampu meniru manusia dengan sangat baik, bagaimana kita bisa membedakan mana hasil proses belajar dan mana hasil pemrosesan algoritma?
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: Apa sesungguhnya makna pendidikan di tengah zaman mesin? Dalam konteks pendidikan, ini bukan sekadar soal menyontek. Ini soal perubahan paradigma.
Jika pendidikan sekadar transmisi informasi, maka AI adalah alat ideal. Ia cepat, efisien, bebas lelah, dan hampir tidak pernah salah. Namun pendidikan bukan hanya itu. Ia adalah proses pembentukan manusia, dengan segala keterbatasan, kegagalan, dan perjuangannya. Justru dalam proses belajar yang lambat, penuh tanya, keliru, dan terkadang frustratif itulah manusia menemukan dirinya. AI bisa memberikan jawaban, tapi tidak bisa memberi makna dari jawaban itu.
Di Indonesia, di tengah semangat mengejar ketertinggalan teknologi, kita justru perlu lebih hati-hati. Banyak sekolah mulai mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pembelajaran. Ini tentu baik jika difungsikan sebagai alat bantu. Namun akan berbahaya bila kita secara tak sadar menggeser orientasi pendidikan menjadi sekadar kecepatan menyelesaikan soal atau pencapaian nilai tinggi. Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa adopsi teknologi tanpa visi yang kuat bisa membuat kita kehilangan arah: kita punya alat paling canggih, tapi tak tahu apa yang ingin dicapai.
Inilah sebabnya kita perlu menggali kembali landasan filosofis pendidikan, yakni apa tujuan hakiki dari mendidik manusia. Tepat di sinilah pemikiran Immanuel Kant menjadi relevan untuk dibawa ke ruang kelas. Kant percaya bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki kehendak bebas, dan karena itu, memiliki kapasitas moral yang tak bisa direduksi menjadi proses otomatis. Dalam filsafat moralnya, Kant menekankan bahwa tindakan manusia hanya dapat dikatakan etis bila dilakukan bukan karena dorongan luar atau demi hasil, melainkan karena kesadaran akan kewajiban ia sebut sebagai 'imperatif kategoris'.
Jika prinsip ini kita terapkan dalam konteks pendidikan, maka mendidik bukanlah soal membuat siswa menjadi efisien, apalagi hanya soal memproduksi output akademik yang rapi. Mendidik berarti menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab, otonomi dalam berpikir, dan kemampuan untuk bertindak atas dasar prinsip yang benar, bukan sekadar hasil yang menguntungkan atau cepat.
Dalam dunia yang dibanjiri AI, di mana segalanya bisa diperoleh dengan instan, pendidikan berbasis Kantian justru menjadi pengingat penting: manusia tidak semestinya diarahkan oleh algoritma, tetapi oleh akal budi dan suara nuraninya sendiri.
AI tidak memiliki kehendak, tidak bisa menimbang baik dan buruk, dan tidak memiliki tujuan hidup. Ia hanya mengikuti struktur perintah. Maka, menyerahkan terlalu banyak peran pendidikan kepada AI bukan sekadar soal praktis. Ia adalah kekeliruan secara moral. Sebab kita akan mengalihkan proses pembentukan karakter manusia kepada sesuatu yang bahkan tidak memiliki karakter.
Lebih jauh lagi, kita berisiko membesarkan generasi yang tidak terbiasa berpikir secara reflektif, yang kehilangan keterampilan bernalar etis, karena terlalu terbiasa disediakan jawaban tanpa proses bertanya.
Bagi Kant, mendidik manusia berarti menuntunnya keluar dari ketergantungan ---apa yang ia sebut sebagai immaturity---, yaitu kondisi ketika seseorang belum bisa menggunakan akal budinya sendiri tanpa arahan pihak lain. Dalam konteks hari ini, ketergantungan itu bukan lagi pada orang tua, negara, atau guru, melainkan pada sistem teknologi yang tak terlihat: mesin pencari, aplikasi penjawab soal, dan tentu saja, AI seperti ChatGPT.
Maka pendidikan tidak boleh bersikap netral terhadap penggunaan teknologi. Ia harus membentuk daya tahan moral dan rasional siswa agar tidak menyerah pada kenyamanan, tetapi terus melatih diri berpikir sendiri.
Lebih penting lagi, Kant menolak pandangan yang menilai tindakan berdasarkan hasil semata. Dalam dunia yang digerakkan AI, orientasi hasil ---skor sempurna, penyelesaian cepat, efisiensi maksimal---, semakin mendominasi cara kita melihat keberhasilan belajar. Tapi Kant mengingatkan bahwa tindakan yang bermoral bukan yang 'berhasil' secara instrumental, melainkan yang lahir dari dan dibangun di atas prinsip dan integritas. Maka tugas guru adalah menumbuhkan sikap ini pada siswa: bahwa belajar bukan sekadar mencapai skor, tetapi menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas prosesnya.
Jika kita kehilangan orientasi ini, maka pendidikan kehilangan jiwa. Dengan sudut pandang ini, kita juga bisa melihat bahwa ancaman AI bukan semata karena kecerdasannya, melainkan karena potensi kita menyerahkan terlalu banyak ruang kemanusiaan kepada sesuatu yang non-manusiawi.
Di titik ini, Kant tidak sekadar menjadi pemikir masa lalu, tetapi pembela masa depan: ia mengingatkan bahwa hanya dengan menjaga kehendak bebas dan akal budi, manusia bisa tetap menjadi subjek pendidikan, bukan objek dari sistem, apalagi korban dari kemajuan yang tidak dikendalikan.
Maka peran guru hari ini menjadi semakin mendesak, bukan untuk bersaing dengan teknologi, tetapi untuk menjaga agar pendidikan tetap manusiawi. AI hanyalah alat. Justru karena itulah, pendidikan harus tetap berakar pada nilai-nilai yang hanya bisa ditanamkan oleh manusia, lebih khusus lagi oleh guru, oleh pengalaman, dan oleh relasi.
Guru tidak boleh direduksi menjadi pengatur konten atau pemantau aplikasi. Perannya harus diperluas, menjadi penjaga makna, pengasuh nalar, dan penuntun moral. Hanya guru yang bisa melihat ketakutan di balik wajah diam murid, hanya guru yang bisa menangkap makna dari kesalahan, hanya guru yang bisa menumbuhkan harapan saat algoritma gagal memahami konteks.
Pendidikan Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketika teknologi berkembang begitu cepat, dan ketika anak-anak dibesarkan dalam dunia yang serba otomatis, maka tugas mendidik menjadi semakin penting. Bukan untuk membuat manusia sehebat mesin, tapi agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.
Refleksi yang perlu terus kita bawa adalah: semakin canggih alat kita, semakin dalam pula kita harus memahami apa makna menjadi manusia.
Di era ketika mesin bisa mengajar, hanya manusia yang tetap bisa mendidik. Dan mendidik adalah tindakan yang tak bisa diotomatisasi, karena ia lahir dari perjumpaan antarmanusia, dari kehendak untuk membentuk jiwa, dan dari kasih yang tidak pernah bisa diprogramkan. Itulah yang membuat manusia tetap tak tergantikan. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.