REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon resmi membuka gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), Sabtu (29/11/2025) malam. Pembukaan tersebut menandai dimulainya rangkaian festival film Asia terbesar di Asia Tenggara yang tahun ini sudah memasuki usia ke-20 sejak pertama kali digelar pada 2006.
Tahun ini, JAFF yang mengusung tema 'Transfiguration' ini akan menayangkan 227 film dari 43 negara melalui berbagai program kompetisi dan nonkompetisi selama delapan hari, mulai 29 November hingga 6 Desember 2025.
Fadli mengapresiasi perayaan tersebut sekaligus menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap perfilman Indonesia. Ia menyebut dua puluh tahun perjalanan JAFF merupakan cerminan kematangan ekosistem film dan budaya Indonesia.
"Dua dekade JAFF berdiri sebagai bukti komitmen dan konsistensi yang teguh dalam memelihara ruang dialog budaya melalui sinema," ujar Fadli dalam sambutannya di acara pembukaan JAFF yang diselenggarakan di GIK GM, Sabtu (29/11/2025), malam.
Menurutnya, JAFF kini telah berkembang dari gerakan komunitas menjadi institusi budaya yang berpengaruh di Asia. Film adalah medium penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia. Karenanya, Fadli menegaskan komitmen kementeriannya dalam mendukung perkembangan industri film nasional melalui kolaborasi multipihak.
"Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh bagi perfilman Indonesia melalui kolaborasi multipihak. Untuk memastikan bahwa film-film Indonesia mampu memperkenalkan keragaman budaya bangsa kepada dunia," ucapnya.
Ia mengungkapkan sejumlah capaian penting industri film Indonesia sepanjang 2025, termasuk produksi 150 film dan dirilisnya 144 judul di jaringan bioskop nasional. Pencapaian tersebut, lanjutnya, menunjukkan optimisme kuat bahwa ekosistem film Indonesia terus berkembang dalam arah positif.
"Hingga November 2025, perfilman Indonesia telah mencatat lebih dari 75 juta penonton film Indonesia. Yang lebih menggembirakan, film Indonesia telah menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar box office nasional," katanya.
Fadli juga merespons usulan pengarsipan film sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. Ia menegaskan perlunya kerja sama lintas pihak untuk menyelamatkan film-film lama, memperjelas kepemilikan IP, dan memperkuat lembaga penyimpanan arsip film nasional.
"Di masa depan, kita sekarang melakukan restorasi film-film lama dan tentu saja di masa depan, kita akan mengarsipkan dan mengumpulkan, sehingga kita memiliki satu aset lagi, yang lebih terorganisir," ucapnya.
"Sekali lagi, saya mengucapkan selamat kepada JAFF yang telah menginjak usia dua dekade," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Film, Animasi dan Video Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Doni Setiawan, menyampaikan bahwa JAFF memiliki peran penting sebagai tempat berjejaring, berkolaborasi, dan memperkuat ekosistem kreatif Indonesia.
"Kami dari Kementerian Ekonomi Kreatif tentu berharap bahwa JAFF ini dapat menjadi sebuah sarana untuk kolaborasi, untuk berjejaring bagi para cineas kita. Jadi film kita tidak hanya bisa dikenal di dalam negeri, tetapi juga bisa dikenal di luar negeri," ujarnya.
Ia juga sepakat bahwa film bukan sekadar objek produksi, namun warisan yang mesti dijaga lintas generasi.
"Ini juga menjadi perhatian kami bersama, nanti kami diskusi dengan jajaran kepemerintahan yang lain terkait dengan arsip film ini," ungkapnya.
Sebagai pendiri festival, Garin Nugroho menyampaikan refleksi mendalam mengenai perjalanan dua dekade JAFF. Ia menekankan festival ini bukan hanya ruang pemutaran film, tetapi katalis transformasi ekosistem sinema di Indonesia dan Asia.
Dua dekade JAFF juga menjadi tonggak tumbuhnya SDM film yang kini menjadi bagian penting peta sinema Asia.
"JAFF memberi support, transfer ilmu pengetahuan, transfer apa yang disebut keterampilan, transfer peta Asia dalam sistem funding ataupun kerjasama yang melahirkan generasi-generasi muda dengan karya-karya yang luar biasa yang mampu mendapatkan peta untuk mencapai tujuannya. Selamat untuk kita semuanya. Hari ini adalah perayaan kita bersama," ujar Garin.
Sementara itu, Direktur Festival Ifa Isfansyah memanfaatkan momentum dua dekade JAFF untuk menyampaikan refleksi mendalam mengenai perjalanan panjang ekosistem film Indonesia. Salah satu yang ditekankan adalah Manifesto Arsip Film atau seruan moral mengenai pentingnya pelestarian sejarah sinema Indonesia.
"Kami mulai memikirkan gagasan-gagasan untuk rekoleksi memori selama 20 tahun pelaksanaan JAFF. Semakin kita mengusul memori-memori itu, semakin kita memikirkan sesuatu yang sifatnya merayakan 20 tahun perjalanan kita, semakin kita menemukan bahwa PR kita terhadap perfilman Indonesia masih sangat besar," ujarnya.
Ifa mengungkapkan banyak artefak, program, hingga arsip film JAFF yang kini sulit diakses. Ia menyoroti pentingnya penyelamatan materi film Indonesia. Tanpa kebijakan nasional, banyak karya perfilman berisiko hilang. Melalui manifesto ini, Ifa ingin adanya komitmen negara untuk menjadikan arsip film sebagai prioritas kebudayaan.
"Jika tidak ada strategi nasional untuk arsip film, maka setiap tahun akan ada bagian dari sejarah kita yang hilang. Negara yang tidak memiliki arsip film adalah negara yang hilang secara sejarah," ungkap Ifa.
Ratusan Film Siap Diputar
Pada edisi dua dekade ini, JAFF akan menayangkan 227 film dari 43 negara melalui rangkaian program kompetisi dan nonkompetisi. Sebelas film panjang beradu dalam Main Competition untuk memperebutkan Golden dan Silver Hanoman Awards.
Deretan film tersebut antara lain A Useful Ghost dari Thailand, debut Ratchapoom Boonbunchachoke yang sebelumnya meraih Grand Prix di Critics’ Week Cannes 2025. Kompetisi juga diwarnai kehadiran Girl karya Shu Qi yang tayang perdana di Venice Film Festival ke-82, serta Pangku garapan Reza Rahadian, film yang jejak prestasinya dimulai dari White Light Post-Production Award di JAFF Future Project 2024 hingga memenangkan empat penghargaan di Busan International Film Festival 2025.
Pembukaan perayaan 20 tahun JAFF sendiri digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, melalui pemutaran film Opera Jawa karya Garin Nugroho. Film musikal tersebut kembali diputar dalam format seluloid 35 milimeter, menghadirkan pengalaman yang sama seperti ketika diputar pada edisi perdana JAFF pada 2006. Sebagai penutup, festival akan menampilkan film panjang debut Aco Tenriyagelli berjudul Suka Duka Tawa, produksi Bion Studios dan Spasi Moving Image.