Ahad 28 Dec 2025 07:14 WIB

Porak-Poranda, Hujan Tanpa Henti Sehari Semalam Picu Banjir, Pohon Tumbang, dan Longsor

Ruruh menyebut adanya evakuasi warga di Kapanewon Sanden akibat banjir.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Fernan Rahadi
Kondisi genangan air di kawasan Sanden, Kabupaten Bantul, Sabtu (27/12/2025).
Foto: Istimewa
Kondisi genangan air di kawasan Sanden, Kabupaten Bantul, Sabtu (27/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Hujan deras yang mengguyur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Jumat (26/12/2025) hingga Sabtu (27/12/2025) mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah wilayah.  Berdasarkan Sitrep (Situation Report) Laporan Situasi Kejadian Cuaca Ekstrem yang dirilis Pusdalops PB BPBD DIY, Kabupaten Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah yang paling terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan hujan tanpa henti tersebut memicu berbagai bencana mulai dari pohon tumbang, tanah longsor, hingga banjir genangan. BMKG DIY juga telah mengeluarkan peringatan dini sejak Jumat pagi hingga Sabtu, dengan beberapa pembaruan sepanjang hari.

"Hujan tanpa henti, sejak Jumat hingga sabtu yang melanda wilayah DIY tersebut menimbulkan beberapa dampak," katanya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (27/12/2025).

Ruruh menyampaikan Kabupaten Bantul menjadi wilayah terdampak terparah, dengan 104 titik kerusakan di 10 kapanewon, termasuk Imogiri, Kasihan, Dlingo, Kretek, Piyungan, Sanden, Pundong, Sedayu, Sewon, dan Srandakan. Dampak kerusakan meliputi pohon tumbang (87 titik), akses jalan terganggu (42 titik), rumah rusak (30 unit), jaringan listrik (15 titik), talud (4 titik), tanah longsor (12 titik), serta fasilitas lain seperti kandang ternak, kantor koperasi, makam, pekarangan, banjir genangan, dan fasilitas pendidikan. Estimasi kerugian mencapai Rp 2,7 juta.

Ruruh menyebut adanya evakuasi warga di Kapanewon Sanden akibat banjir.

"Penanganan dan asesmen masih berlangsung," ujarnya.

Sementara di Kabupaten Gunungkidul, hujan ekstrem berdampak di 16 titik yang tersebar di tujuh kapanewon, termasuk Tanjungsari, Wonosari, Girisubo, Paliyan, Semanu, Nglipar, dan Playen. Kerusakan yang tercatat meliputi pohon tumbang (5 titik), tanah longsor (1 titik), banjir genangan (4 titik), rumah rusak (2 unit), akses jalan (2 titik), fasilitas pendidikan (2 titik), perahu (3 unit), tempat pelelangan ikan/fasum (1 unit), pabrik (1 unit), dan 28 unit tempat usaha/kios. Estimasi kerugian mencapai Rp 8,9 juta.

Selanjutnya, di Kabupaten Kulon Progo, hujan ekstrem berdampak di 10 titik, terutama di Kokap, Pengasih, dan Girimulyo. Dampak yang tercatat antara lain tanah longsor (9 titik), banjir genangan (1 titik), talud (1 titik), rumah rusak (6 unit), dan akses jalan terganggu (3 titik). Estimasi kerugian mencapai Rp 40 juta.

"Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta dilaporkan nihil kejadian," katanya.

Penanganan di lapangan melibatkan berbagai unsur, termasuk BPBD, FPRB Kalurahan, TNI, Polri, Dinsos, Sat Linmas, PMI, Pemkab/Pemkot, PLN, KSB, relawan, dan masyarakat setempat. Data yang dibagikan bersifat sementara dan dapat berubah sesuai pembaruan terbaru.

Selain ancaman hidrometeorologi, aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Pada 26 Desember 2025, tercatat 77 kali gempa guguran dan 59 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, termasuk satu kali guguran lava ke Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter. BPPTKG tetap menetapkan status Merapi pada Level III atau Siaga. 

Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta juga mencatat tiga kali gempa bumi dengan magnitudo 2,5–2,6. Gempa tersebut dilaporkan tidak dirasakan masyarakat. Masyarakat ataupun wisatawan yang sedang berada di Yogyakarta juga diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pemerintah daerah. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement