Kamis 05 Feb 2026 15:50 WIB

Seribuan Siswa di Jateng Alami Gejala Keracunan MBG Sepanjang Januari 2026

Penyebab dugaan keracunan dalam pelaksanaan MBG bisa berasal dari berbagai faktor.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Mas Alamil Huda
Anggota polisi dan petugas kesehatan mengevakuasi siswa yang diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) di SMA 2 Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026). Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus bersama rumah sakit setempat melakukan evakuasi dan penanganan kepada ratusan siswa SMA 2 Kudus yang diduga keracunan MBG untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Foto: ANTARA FOTO/Nirza
Anggota polisi dan petugas kesehatan mengevakuasi siswa yang diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) di SMA 2 Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026). Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus bersama rumah sakit setempat melakukan evakuasi dan penanganan kepada ratusan siswa SMA 2 Kudus yang diduga keracunan MBG untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Jumlah siswa di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang Januari 2026 mencapai 1.000-an siswa. Mereka tersebar di beberapa kabupaten/kota.

"1.000 orang ada kayaknya," ungkap Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG Provinsi Jateng, Hanung Triyono, ketika ditanya perihal berapa jumlah siswa di Jateng yang diduga mengalami keracunan MBG sepanjang Januari 2026, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga

Dalam catatan Republika, kasus dugaan keracunan MBG di sejumlah sekolah di Kabupaten Grobogan pada 9 Januari 2026 menjadi yang paling mencolok. Setidaknya 803 siswa diduga keracunan MBG dan 115 di antaranya harus menjalani rawat inap.

Sementara kasus dugaan keracunan MBG terbaru terjadi di SMAN 2 Kudus pada 29 Januari 2026 lalu. Sebanyak 117 siswa di sana mengalami gejala keracunan dan setidaknya 46 di antaranya harus menjalani rawat inap. Penyebab gejala keracunan ditengarai menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada hari sebelumnya.

Hanung Triyono menilai, serangkaian kasus dugaan keracunan MBG di Jateng berkaitan erat dengan pelaksanaan standar prosedur atau SOP oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). "Jadi teman-teman itu yang harus dicek betul SOP," ujarnya.

Dia menambahkan, pengecekan SOP yang harus diperhatikan setiap SPPG mencakup penyiapan bahan baku, pengolahan, hingga penyajian. Hal itu termasuk penggunaan sumber air yang mesti dipastikan higienis.

Menurut Hanung, penyebab dugaan keracunan dalam pelaksanaan MBG bisa berasal dari berbagai faktor. Namun dia mengeklaim, setiap SPPG berusaha untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

"Tapi SPPG yang terlibat kasus keracunan diberhentikan dulu (operasionalnya). Nanti dibenahi dulu, baru dibuka lagi," ujar Hanung.

Ketika ditanya apakah sudah pernah ada kasus orang tua murid melapor ke kepolisian terkait dugaan keracunan MBG di Jateng, Hanung menjawab belum menerima laporan semacam itu. Namun dia mengimbau agar langkah demikian tak perlu dilakukan. "Enggak usahlah laporan. Asal kita niatnya baik, jangan saling melapor. Toh, niat kita bagus kok," kata Hanung.

"Jadi kita harus membuat suasana yang bagus. Tidak usah lapor melapor. Asal ada komunikasi kan bagus. Kan semua biaya (perawatan dan pengobatan siswa alami gejala keracunan MBG) ditanggung oleh pemerintah juga," tambah Hanung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement