Jumat 06 Mar 2026 12:56 WIB

Enam Kasus Positif Campak Ditemukan, Dinkes Yogyakarta Ingatkan Imunisasi Kunci Utama Pencegahan

Dokter Lana menyebut seluruh pasien telah sembuh dan tidak ditetapkan sebagai KLB.

Kantor Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.
Foto: Wulan Intandari
Kantor Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kasus campak kembali menjadi perhatian dunia kesehatan dalam beberapa waktu terakhir. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menjadi ancaman serius, terutama di negara dengan cakupan imunisasi yang belum merata. Secara global,  Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus campak tertinggi di dunia atau menempati posisi kedua secara global.

Di tengah situasi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Data terbaru menunjukkan terdapat enam kasus campak yang terkonfirmasi positif di wilayah kota ini selama periode Januari hingga awal Maret 2026. 

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah, menjelaskan, jumlah kasus tersebut berasal dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap 45 kasus suspek yang dilaporkan oleh tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, hingga rumah sakit. Kasus suspek tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel laboratorium dan dilakukan pemeriksaan di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) untuk memastikan apakah pasien benar-benar terinfeksi virus campak atau tidak.

"Kota Yogyakarta ada 6 kasus positif di periode Januari-Maret 2026," kata dr. Lana saat dijumpai Republika di kantor Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Jumat (6/3/2026).

Dokter Lana menyebut, seluruh pasien telah dinyatakan sembuh dan tidak ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Namun ia menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan karena campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular.

Ia menjelaskan, virus campak dapat menyebar melalui droplet atau percikan air liur yang keluar saat penderita berbicara, batuk, atau bersin.

"Penularannya melalui droplet dari penderita. Jadi dari orang yang positif, saat dia bicara, bersin, atau batuk itu bisa menularkan," kata dia.

Karena itu, seseorang yang dicurigai terinfeksi atau masuk kategori suspek sebaiknya menggunakan masker hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

photo
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr Lana Unwanah saat memberikan keterangan terkait kasus campak di wilayahnya, Jumat (6/3/2026). - (Wulan Intandari)

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Campak memiliki sejumlah gejala khas yang dapat dikenali sejak awal. Biasanya penyakit ini diawali dengan demam tinggi yang bisa mencapai lebih dari 38 derajat Celsius.

Setelah itu, akan muncul ruam kemerahan di kulit yang sering disebut rash. Ruam tersebut dapat muncul di wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh. dr. Lana mengatakan, penderita juga sering mengalami gejala tambahan seperti batuk, pilek, dan mata merah. Namun gejala yang muncul tidak selalu lengkap pada setiap penderita.

"Terkadang tidak semuanya muncul, tetapi yang paling sering adalah demam dan ruam kemerahan," ucap dia.

Meski sering dianggap sebagai penyakit anak biasa, campak sebenarnya dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Lana menjelaskan, virus campak dapat menyebar ke berbagai organ tubuh dan menyebabkan infeksi lanjutan. Selain itu, virus campak juga dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan radang otak atau meningitis.

Dalam kondisi yang berat, Lana tak menepis, bahwa komplikasi tersebut dapat berujung pada kematian. Di beberapa daerah di Indonesia, kasus kematian akibat campak masih ditemukan. Namun di Kota Yogyakarta, hingga kini belum ada laporan kematian akibat penyakit tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

"Alhamdulillah di Kota Yogyakarta sudah beberapa tahun terakhir tidak ada kematian akibat campak," katanya.

Imunisasi Jadi Kunci Pencegahan

Dokter Lana mengatakan, imunisasi merupakan langkah pencegahan paling efektif. Ia mengingatkan, para orang tua unutk memenuhi hak anak untuk mendapatkan imunisasi. Imunisasi tersebut harus diberikan dalam tiga tahap, dimulai sejak bayi berusia sembilan bulan, kemudian booster atau dosis kedua diberikan pada usia 18 bulan hingga anak duduk di kelas satu sekolah dasar melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang digalakkan oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

Dengan mengikuti seluruh tahapan imunisasi tersebut, menurutnya, risiko anak untuk tertular campak dapat ditekan secara signifikan.

"Jika seorang anak sudah mendapatkan imunisasi sesuai tahapan tersebut, sebetulnya risiko tertular campak sudah sangat rendah," ujarnya.

"Pertanyaannya mungkin bagaimana jika sudah terlewat? Nggak apa-apa, masih bisa dikejar, datang saja ke layanan kesehatan terdekat, bisa dilakukan imunisasi yang pertama. Nanti kemudian akan dihitung berikutnya oleh teman-teman (kesehatan) kapan untuk yang boosternya. Jadi tidak ada kata terlambat kalau untuk imunisasi, tidak ada masa expired usia ya kalau untuk imunisasi," ucapnya menambahkan.

Lana mengakui, cakupan imunisasi di wilayahnya belum mencapai 100 persen. Meski rata-rata sudah berada di atas target nasional, masih ada sebagian kecil anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Anak yang belum diimunisasi ini, tetap berpotensi menimbulkan penularan.

"Kami sudah di atas 95 persen ya rata-rata. Cuma itu tadi, di bolongnya itu, artinya kan nggak 100 persen ya, kalau misalkan dia bepergian ke luar daerah, itu yang resikonya. Sekarang mobilitas itu sangat tinggi apalagi ini mungkin jelang lebaran ya. Jelang lebaran habis itu nanti mungkin Mei, Juni kan liburan anak sekolah ya. Jadi mungkin bayi-bayi atau anak-anak itu nanti juga liburan ke mana, ke daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih di bawah itu resiko untuk tertular," ungkap Dokter Lana.

Selain faktor mobilitas, tantangan lain dalam program imunisasi adalah masih adanya orang tua yang menolak vaksinasi anaknya. Penolakan tersebut biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari informasi yang salah hingga kepercayaan tertentu. 

Padahal, imunisasi merupakan bagian dari hak anak yang dilindungi oleh undang-undang. Ia menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak tersebut.

"Ini hak anak. Bisa dibilang bahwa jika ada orang tua yang tidak bersedia dan menghalangi anaknya diimunisasi, itu kalau ditelusuri mungkin bisa dianggap mengabaikan hak anak. Nah itu dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak sebetulnya ya, hak untuk mendapatkan imunisasi," kata dia.

Pemerintah, lanjutnya, juga memastikan bahwa layanan imunisasi dasar dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Vaksin yang disediakan pemerintah dapat diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan, terutama puskesmas.

Lebih jauh, karena penyakit campak ini juga mungkin terjadi pada orang dewasa, Dokter Lana mengingatkan perlindungan terhadap penyakit menular tidak hanya bergantung pada imunisasi individu, tetapi juga pada kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, menjaga asupan makan yang baik, anak-anak atau bahkan orang dewasa yang tidak bisa menerima vaksin karena alasan medis pun tetap dapat terlindungi. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Dinkes Kota Yogyakarta juga terus memantau perkembangan penyakit menular melalui sistem kewaspadaan dini. Lana menyampaikan, pihaknya memiliki Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang mewajibkan fasilitas kesehatan melaporkan kasus penyakit tertentu setiap hari.

Campak termasuk dalam daftar 24 penyakit yang dipantau secara ketat karena berpotensi menimbulkan wabah.

"Semua fasilitas kesehatan melaporkan kasus tersebut setiap hari. Kalau misalkan ternyata ada alert, ada peringatan yang masuk, ini akan segera kita tindak lanjut," kata Lana.

Selain imunisasi, faktor lain yang juga berperan dalam pencegahan penyakit adalah gizi yang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Anak dengan asupan gizi seimbang, menurutnya memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap infeksi.

Lana juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi serta makanan bergizi setelah masa ASI.

"Gizi seimbang sangat penting untuk memperkuat daya tahan tubuh anak," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menerapkan kebiasaan hidup sehat seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan masker ketika sakit.

"Kita semua, masing-masing, kita yang tahu kapan kita harus pakai masker. Saat mungkin di area yang kita merasa kok banyak orang, ini kok rasanya saya merasa nggak aman, pakailah masker," ucap dia.

Dinkes Kota Yogyakarta juga meminta agar masyarakat tidak perlu panik menghadapi kasus campak yang ada saat ini. Namun kewaspadaan tetap diperlukan agar penyakit tersebut tidak menyebar lebih luas. Ia juga mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan tentang pentingnya imunisasi.

Orang tua, keluarga, hingga tokoh masyarakat diharapkan berperan aktif memastikan anak-anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal.

"Jangan panik tapi kita tetap waspada. Kemudian yang kedua, lihat lagi status imunisasi khususnya yang campak ini ya, tapi secara umum untuk seluruh imunisasi. Karena kita kan ada IDL (Imunisasi Dasar Lengkap) dan IBL (Imunisasi Booster Lengkap)," katanya.

Menurut Lana, langkah sederhana tersebut dapat menjadi kunci untuk mencegah munculnya kasus campak yang lebih besar di masa depan. Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi terus meningkat sehingga penularan campak dapat dicegah.

"Kemudian yang ketiga, berikan gizi lengkap seimbang. Buat bayi, buat balita, dan buat anak dan tentunya juga buat dewasa kita. Jika memang ada permasalahan makan ya, kadang-kadang anak-anak makan ya tetap harus dikonsultasikan. Jadi para ibu-ibu juga harus telaten. Karena ada masa-masanya anak itu memang suka sulit makan," ungkapnya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Dwi Ana Sulistiani selaku Fungsional Epidemiolog Dinkes Kota Yogyakarta menambahkan sepanjang tahun 2025 terdapat 13 kasus positif campak di Kota Yogyakarta. Sedangkan di tahun 2026 sudah ada 6 kasus positif. Dari enam kasus yang ditemukan pada awal 2026, masing-masing berasal dari Kemantren Mantrijeron, Jetis, Umbulharjo, Tegalrejo, Kotagede, dan Ngampilan, dengan satu kasus di setiap wilayah. 

Pasien yang terinfeksi itu memiliki rentang usia cukup beragam, mulai dari bayi berusia 10 bulan hingga orang dewasa berusia 28 tahun. Kasus pada pasien dewasa diketahui bekerja di wilayah Sleman yang saat ini sedang mengalami KLB campak, sehingga diduga tertular dari lingkungan kerja. Namun, seluruh pasien saat ini dilaporkan sudah sembuh.

"Memang mulai naik (kasus campak) itu di akhir tahun. Kemudian berlanjut dari Januari, Februari hingga awal Maret ini muncul, kita sudah dapat enam (kasus positif)," ujarnya.

 

 

Advertisement