Kamis 09 Jul 2026 22:22 WIB

Warga Jateng Pilih Kunjungi Objek Wisata Murmer Selama Libur Sekolah

Dari lima tempat wisata teratas bisa didapat dengan biaya terjangkau bahkan gratis.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Sejumlah pemandu wisata berjalan melintasi bekas Kantor Surat Kabar Het Noorden pada masa Pemerintah Hindia Belanda saat mengikuti tur di kawasan Cagar Budaya Nasional Kota Lama Semarang, Jawa Tengah.
Foto: Antara/Aji Styawan
Sejumlah pemandu wisata berjalan melintasi bekas Kantor Surat Kabar Het Noorden pada masa Pemerintah Hindia Belanda saat mengikuti tur di kawasan Cagar Budaya Nasional Kota Lama Semarang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Hanung Triyono, mengungkapkan, selama periode liburan sekolah, sejumlah objek wisata di Jateng dipadati wisatawan. Dia menyebut, terjadi pergeseran kunjungan wisatawan ke tempat-tempat wisata yang berbiaya murah atau terjangkau.

Hanung mengatakan, terdapat lima objek wisata di Jateng yang terbanyak dikunjungi wisatawan lokal selama masa liburan sekolah, yakni: Kota Lama Semarang (275.941 pengunjung), Candi Prambanan (251.475 pengunjung), Makam Aulia Syekh Maulana Maghribi di Kabupaten Batang (175.722 pengunjung), Dieng (116.628 pengunjung), dan Rowo Jombor Klaten (77.400 pengunjung). Angka kunjungan wisatawan tersebut dihitung mulai 20 Juni-6 Juli 2026. 

Baca Juga

Dari kelima objek wisata tersebut, empat di antaranya, terkecuali Candi Prambanan, dapat diakses dengan biaya sangat terjangkau, bahkan gratis. Kota Lama Semarang, misalnya, bisa dikunjungi tanpa harus membeli tiket apapun. 

Menurut Hanung, kunjungan wisata alam di beberapa daerah, khususnya ke kawasan pantai, juga meningkat. Hal itu misalnya teramati di Kebumen, Cilacap, dan Purworejo.

"Sekarang ini para wisatawan, khususnya dalam negeri, kepingin melihat objek yang baru ya. Jadi pantai di sana kan ada yang baru juga. Terus kepingin melihat kondisi alam juga," ucap Hanung. 

Hanung berpendapat, faktor lain yang memacu peningkatan kunjungan wisatawan ke daerah dan objek wisata terkait adalah karena biayanya yang terjangkau. "Nah faktor biaya juga. Karena kalau wisata-wisata yang sudah tertata, seperti (Candi) Borobudur, misalnya, mereka paling hanya di bawah," katanya. 

"Jadi faktor itu (biaya) juga, dan tadi bahwa mereka bisa menikmati kebersamaan," tambah Hanung. 

Berita Lainnya

Rekomendasi