Kamis 30 Dec 2021 17:16 WIB

Hama Tikus Gangguan Pertanian Paling Menonjol di Kabupaten Semarang

Kondisi itu mengakibatkan petani gagal panen dan harus menanggung kerugian.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Petani secara swadaya melakukan pembasmian hama tikus (ilustrasi).
Foto: m.today.co.id
Petani secara swadaya melakukan pembasmian hama tikus (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Para petani di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, diminta tidak melakukan penanaman secara parsial. Sebisa mungkin, petani melakukan penanaman secara serentak (bersamaan), saat musim tanam awal 2022 tiba.

Hal ini untuk menghindari serangan hama tikus, yang kembali merajalela pada kurun waktu setengah tahun terakhir, hingga mengakibatkan para petani gagal panen dan harus menanggung kerugian. Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha mengatakan, serangan hama menjadi gangguan produktivitas para petani yang cukup menonjol di 2021 ini.

“Selama setengah tahun ini serangan hama tikus meluas di Kabupaten Semarang. Terutama untuk tanaman padi, jagung, dan ketela,” ungkapnya, di sela acara penyerahan bantuan alsintan jenis cultivator di pendopo rumah dinas Bupati Semarang, Ungaran, Kamis (30/12).

Bupati berharap Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) terus mendorong kesadaran para petani untuk menanam padi secara serentak dalam waktu yang bersamaan. Jangan ada yang sudah menanam, sementara yang lain ada yang sudah panen atau bahkan masih mengolah lahan. “Sebab, nanti serangan tikusnya berkembang pesat dan cepat meluas,” jelasnya.

 

Sebaliknya, dengan menentukan penanaman dalam waktu yang bersamaan, serangan hama tikus akan berkurang. Di satu sisi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang bakal menyiapkan burung hantu predator tikus, bantuan obat untuk membasmi hama tikus, dan menggencarkan gropyokan tikus.

Menurutnya, ladang padi yang diserang hama tikus bisa habis sampai 80 hingga 90 persen. “Maka kita terus berupaya bagaiaman menanggulangi hama tikus, termasuk hama pengganggu tanaman lain seperti ulat, serangga,” tambahnya.

Ngesti juga menyampaikan, untuk kebutuhan pupuk yang selama ini (petani) masih sangat tergantung pada pupuk kimia (unorganik) juga akan didorong untuk menggunakan pupuk organik.

Kalau menggunakan pupuk kimia terus, pada saat kosong petani selalu kebingungan. “Maka, kami mendorong pertanian semi organik, artinya pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk organik cair nantinya bisa dibuat secara mandiri,” lanjut bupati.

Selain itu, dengan adanya peningkatan SDM melalui pelatihan, maka tanah semakin bagus, harga pupuk juga semakin murah, dan ada di lingkungan sendiri dan yang pasti tidak tergantung pada pupuk kimia.

Tak hanya itu hasil produksi pertaniannya juga akan lebih bagus. “Sehingga nanti kita dorong secara bertahap untuk memakai pupuk organik,” tegasnya.

Ketua Kelompok Tani Subur, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas, Marsono mengamini, serangan hama tikus cukup merepotkan para petani. Kendati Kecamatan Bergas bukan termasuk wilayah paling parah, hama tikus bisa mengakibatkan kerugian hanya dalam waktu satu malam.

Menurutnya, serangan hama tikus dalam merusak tanaman padi cukup cepat dan setiap sawah yang diserang peluang gagal panen cukup besar. “Selain serangan hama tikus, hama kresek yang parah juga rawan terhadap gagal panen,” ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement