Selasa 08 Mar 2022 22:13 WIB

Mahasiswa UNY Teliti Ecoprint di Media Kulit

Batik Kampung merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang kerajinan.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Mahasiswa UNY Teliti Ecoprint di Media Kulit (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho
Mahasiswa UNY Teliti Ecoprint di Media Kulit (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Ecoprint merupakan teknik pewarnaan menggunakan bahan pewarna alam. Teknik pewarnaan pada ecoprint dilakukan dengan memindahkan warna dan bentuk ke media melalui kontak langsung, dan umumnya diterapkan kepada permukaan kain.

Ternyata, ecoprint tidak hanya dapat dilakukan kepada media seperti kain, namun bisa ke berbagai media, salah satunya kulit. Ini yang menjadi fokus penelitian mahasiswa Prodi Pendidikan Kriya Fakultas Bahasa dan Seni UNY, Novi Saraswati.

Baca Juga

Novi mengatakan, dari sisi bahan kulit ada yang telah alami proses pengolahan penyamakan kulit yang disebut leather atau kulit jadi. Serta, kulit yang belum mengalami pengolahan bahan kimiawi. Jenis yang alami disebut perkamen (mentah).

Gadis kelahiran Sleman 11 Maret 1996 itu melakukan penelitian di home industry Batik Kampung Ngadiwinatan Ngampilan Yogyakarta. Batik Kampung merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang kerajinan atau kriya tekstil dan kulit.

Awalnya, Batik Kampung hanya menerapkan teknik pewarnaan ecoprint ke kain. Tapi, pada akhir 2018 mulai berkembang menggunakan kulit sebagai media dalam terapkan teknik tersebut. Bahan baku yang digunakan ada kulit domba, tawas, kain katun.

"Cuka, soda abu, plastik wrap, air, tali (rafia), bunga (kenikir, kamboja) dan daun seperti pucuk daun jati, daun lanang, daun jarak wulung, daun kalpataru, daun pepaya jepang," kata Novi yang merupakan alumni SMKN 1 Kalasan tersebut, Selasa (8/3/2022).

Prosesnya diawali mordanting untuk meningkatkan daya serap kulit terhadap zat pewarna alami dan membuka pori-pori kulit, sehingga warna maksimal. Dilanjutkan treatment kulit dan daun, untuk membersihkan segala kotoran yang menempel di daun.

Ada beberapa jenis daun yang tidak perlu treatment seperti daun lanang dan daun jati, tapi selain itu semua jenis bunga tidak perlu melalui proses ini. Proses ecoprint dilanjutkan teknik menutup kulit dengan kain katun yang diberi pewarna.

Kemudian, proses pengukusan dan finishing. Warga Nglengkong Sambirejo Prambanan tersebut menuturkan, hasil karya ecoprint di media kulit ini bisa dibuat menjadi berbagai kerajinan seperti sepatu, tas, rompi kulit, dress, kemeja dan celana.

"Harapannya, dengan produksi yang sudah berjalan selama ini Batik Kampung selalu menjaga dan meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di kancah internasional. Serta, dalam mendesain memperhatikan nilai ergonomi baik segi fungsi, estetika, pengguna dan sebagainya," ujar Novi. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement