Rabu 22 Jun 2022 15:40 WIB

Masyarakat Keluhkan Tingginya Harga Cabai Rawit

Terjadi kekosongan panen di daerah sentral cabai rawit.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Fakhruddin
Masyarakat Keluhkan Tingginya Harga Cabai Rawit (ilustrasi).
Foto: Prayogi/Republika.
Masyarakat Keluhkan Tingginya Harga Cabai Rawit (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Tingginya harga cabai rawit di sejumlah pasar di Surabaya dikeluhkan penjual maupun pembeli. Di pasar Wonokromo contohnya, harga cabai rawit tembus Rp 96 ribu per kilogram. Salah satu pedagang di Pasar Wonokromo, Herni Wijaya (41) mengaku, tingginya harga cabai turut memengaruhi penjualan yang ujungnya berimbas pada pendapatan yang diperoleh.

"Ya jelas turun (pendapatan) kan kita dapet jatahnya juga sedikit. Sering pelanggan ke sini mau beli cabai rawit, di sininya sudah habis. Kan jadi kasian, mereka pasti kecewa," ujar Herni kepada Republika, Rabu (22/6/2022).

Baca Juga

Herni berharap pemerintah selaku pemangku kebijakan bisa mengatasi masalah tingginya harga cabai rawit tersebut. Ia juga berharap ketersediaan cabai rawit bisa kembali normal, sehingga pendapatan pun bisa kembali normal. Ia tak ingin tingginya harga cabai rawit berlarut-larut seperti minyak goreng.

Salah seorang pembeli, Nurika (27) juga turut mengeluhkan tingginya harga cabai rawit tersebut. Meskipun cabai rawit tersebut bukan merupakan makanan pokok, namun menurutnya menjadi kebutuhan sehari-hari. Menyiasati tingginya harga cabai rawit tersebut, Nurika memilih membelinya dengan cara mengecer.

"Ya memang bukan makanan pokok, tapi kan kalau makan tanpa sambal itu berasa kurang nikmat. Solusinya ya beli ngecer. Neli Rp 10 ribu, beli Rp 5 ribu, meskioun dapatnya juga dikit," kata dia.

Berdasarkan data  Sistem Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) yang dikelola Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp95.855 per kilohram. Harga rata-rata tertinggi Rp108.250 di Kota Pasuruan, dan terendah Rp83.375 di Bondowoso. 

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim, Nanang Triatmoko mengungkapkan sejumlah faktor yang mempengaruhi kenaikan harga cabai rawit di Jatim. Faktor utamanya ialah karena terjadi penurunan produksi di sentra-sentra cabai rawit di Jatim, seperti di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Kediri, dan Blitar. 

"Terjadi kekosongan panen di daerah sentral cabai rawit. Sehingga jika biasanya panennya sambung menyambung antardaerah, nah kali ini terputus. Sebenarnya bukan langka tapi produksinya menurun, sehingga stoknya tidak banyak," ujarnya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement