Jumat 14 Oct 2022 06:41 WIB

Dua Aremania yang Meninggal Dunia Bakal Diautopsi

Menurut Erwin, proses autopsi akan dilaksanakan pada 20 Oktober mendatang.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Sejumlah suporter Arema FC (Aremania) menyalakan lilin sesaat sebelum doa bersama di depan stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Kamis (6/10/2022).
Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Sejumlah suporter Arema FC (Aremania) menyalakan lilin sesaat sebelum doa bersama di depan stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Kamis (6/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Dua Aremania yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan akan diautopsi. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kabid Dokkes Polda Jawa Timur (Jatim), Kombes Pol Erwin Zainul Hakim kepada wartawan di Kabupaten Malang, Kamis (13/10/2022).

Selanjutnya, Polda Jatim akan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI). Hal ini dilakukan karena kemungkinan besar pelaksanaannya adalah dokter-dokter yang ditunjuk oleh PDFI. "Autopsinya disebut dengan ekshumasi, jenazah di tempat langsung dilakukan pemeriksaan," kata Erwin.

Di samping itu, Polda Jatim juga akan mengonfirmasi kembali kepada keluarga korban yang sebelumnya bersedia autopsi. Menurut Erwin, proses autopsi akan dilaksanakan pada 20 Oktober mendatang.

Sejauh ini, kata Erwin, hanya dua korban yang akan melakukan autopsi. Terkait cukup atau tidaknya, Erwin menilai, itu tergantung pihak penyidik. Namun apabila ada tambahan korban lain, pihaknya siap melaksanakan autopsi.

 

"Pendapat kami misalnya yang kemarin terakhir meninggal atas nama Helen. Itu bisa disebut dengan autopsi klinis. Proses dia masuk, sakit sampai dia meninggal rekam medik bahkan CT scan-nya ada. Itu sudah bisa dibuat suatu sebab kematian," jelasnya.

Seperti diketahui, Arema FC mengalami kekalahan saat bertemu Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Kondisi ini menyebabkan dua Aremania turun ke lapangan untuk menguatkan para pemain Arema FC. Namun kedatangan tersebut direspons kurang baik oleh tim pengamanan sehingga memicu suporter lainnya turun ke lapangan. 

Bukannya memberikan imbauan, tim pengamanan justru melakukan kekerasan terhadap para suporter. Bahkan, aparat kepolisian memberikan tembakan gas air mata ke sejumlah tribun. Sejumlah suporter panik dan mencoba keluar stadion tetapi pintu ditemukan dalam keadaan terkunci. Situasi ini menyebabkan para penonton sesak napas hingga ada yang meninggal dunia di tempat.

Di samping itu, juga dilaporkan ratusan Aremania mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut. Sebagian besar mengalami sesak napas, patah tulang, iritasi mata dan sebagainya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement