Jumat 21 Oct 2022 17:07 WIB

Tunggu Penyelidikan Gagal Ginjal, Masyarakat Diminta Tenang

Untuk sementara penggunaan obat sirup dihentikan.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Jumlah kasus gagal ginjal anak ditampilkan saat konferensi pers terkait penyakit gagal ginjal akut pada anak di RSUP Sardjito, Yogyakarta, Rabu (19/10/2022). Kasus gangguan ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak di DIY mencapai 13 kasus. Seluruh kasus tersebut ditangani di RSUP Dr Sardjito, Kabupaten Sleman. Hingga kini tiga kasus sembuh, enam kasus meninggal, dan empat kasus dalam perawatan intensif.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Jumlah kasus gagal ginjal anak ditampilkan saat konferensi pers terkait penyakit gagal ginjal akut pada anak di RSUP Sardjito, Yogyakarta, Rabu (19/10/2022). Kasus gangguan ginjal akut misterius yang menyerang anak-anak di DIY mencapai 13 kasus. Seluruh kasus tersebut ditangani di RSUP Dr Sardjito, Kabupaten Sleman. Hingga kini tiga kasus sembuh, enam kasus meninggal, dan empat kasus dalam perawatan intensif.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Direktur RSUD Sleman, DIY, Novita Krisnaeni mengatakan, berbagai usaha telah dilakukan sebagai rumah sakit rujukan tipe B dalam menangani kasus-kasus gagal ginjal akut tersebut. Mulai dari preventif, promotif, maupun kuratif.

Kegiatan preventif yang dilakukan merujuk Surat Edaran Kemenkes maupun IDAI. Saat ini, tenaga kesehatan tidak memberikan pengobatan dalam bentuk sirup dengan merek apapun. Jadi, untuk sementara penggunaan obat sirup dihentikan.

Untuk promotif, menyampaikan informasi terkait penyakit ke masyarakat melalui media atau langsung ke pasien. Informasi yang disampaikan gejala, pencegahan, langkah yang diambil orang tua jika anak panas, batuk, pilek maupun diare.

Sedangkan, untuk kuratif dengan menyediakan dokter spesialis anak di RSUD Sleman sebanyak empat orang. Selain itu, sarana dan prasarana ICU NICU disiapkan. Tapi, walau RSUD Sleman jadi RS rujukan tipe B, tetap harus merujuk RS rujukan utama.

"Di Yogyakarta rumah sakit rujukan utama yang menangani kasus gagal ginjal akut ialah RS Sardjito," kata Novita, Jumat (21/10/2022).

Dokter spesialis anak RSUD Sleman, Raden Yuli Kristianto menuturkan, sampai saat ini masyarakat Indonesia pada umumnya masih menunggu informasi lebih lanjut. Baik dari Kementerian Kesehatan, BPOM, dan instansi-instansi pemerintah lain.

Mulai dari kondisi gagal ginjal akut pada anak dan penggunaan obat-obatan sirup. Artinya, masih akan ada kebijakan yang berubah dalam menangani kondisi tersebut. Karenanya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sampaikan beberapa rekomendasi.

Pertama, untuk tenaga kesehatan saat ini direkomendasikan untuk tidak meresepkan obat-obatan cair terlebih dulu. Bila terdapat penggunaan obat-obatan cair secara rutin, diminta segera berkonsultasi kepada dokter anak untuk penggantian obat.

Nakes di semua tempat seluruh Indonesia diminta tingkatkan kewaspadaan terhadap kasus gagal ginjal. Bila anak sakit gangguan penurunan jumlah urine atau tidak buang air kecil sama sekali, maka harus segera dikonsultasikan kepada dokter.

"Dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan ke anak berupa pemeriksaan fisik dan ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium. Jika anak tersebut terindikasi mengalami gagal ginjal akut, maka akan dilakukan rujukan ke RS rujukan khusus," ujar Ian.

Terkait obat-obatan sirup, yang menyebabkan gagal ginjal dengan mengonsumsi obat sirup sebenarnya bukan komponen di dalamnya. Tapi, pelarut yang memakai ethylene glycol dan diethylene glycol. Di Indonesia, BPOM terus melakukan penyelidikan.

Walau sudah ada hasil sementara, ia meminta masyarakat tetap menunggu hasil BPOM sampai final dan tidak melakukan self medicating dengan obat sirup. Tingkatkan kewaspadaan orangtua terhadap kondisi anak sakit dengan cara memantau urine.

"Jika produksi urinenya turun atau bahkan tidak buang air kecil selama enam jam, orangtua diminta untuk tidak cemas dan tidak panik, namun segera konsultasikan kepada dokter," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement