Kamis 23 Mar 2023 07:40 WIB

UMM dan GPSM Bedah Buku Pemikiran Buya Syafii

Sudut pandang mengenai kebudayaan paling menonjol di buku tersebut.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Fernan Rahadi
Koleksi buku milik Buya Syafii Maarif di Serambi Buya Syafii, Perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/11/2022).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Koleksi buku milik Buya Syafii Maarif di Serambi Buya Syafii, Perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, Kamis (10/11/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Buku berjudul 'Berdiang di Perapian Buya Syafii' karya Riki Dhamparan Putra dibahas pada bedah buku garapan Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Diskusi yang dilaksanakan pada 18 Maret 2023 itu juga bekerja sama dengan Gerakan Pemikiran Syafii Maarif (GPSM).

Penulis buku, Riki Dhamparan Putra mengatakan, tulisan-tulisan dalam bukunya merupakan sudut pandang dirinya mencari kehangatan dari pikiran-pikiran dan juga gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif. "Utamanya mengenai agama, bangsa, dan budaya," jelasnya.

Menurut dia, sudut pandang mengenai kebudayaan paling menonjol di buku tersebut. Hal ini karena dia melihat kebudayaan menjadi hal yang khas dalam pemikiran-pemikiran Buya Syafii. Atas dasar itulah, dia menyusun buku tersebut dengan harapan dapat menjadi satu dari banyak rujukan untuk mendalami pemikiran Buya Syafii.

Dalam pemikiran Buya Syafii, menurut Riki, Indonesia berada pada kacamata kebudayaan dan visi yang masih terus berproses. Hal ini berarti Indonesia merupakan negara yang majemuk dan berusaha menyatukan masyarakatnya menjadi satu bangunan yang utuh.

Salah satu wujud utama dalam identitas keindonesiaan itu dibentuk dari agama. Sebelum Islam datang ke Indonesia, nenek moyang manusia sudah memiliki ilmu teologisme sejak ratusan tahun lalu. Ilmu itu sudah ada dan membentuk jalur pemikiran mengenai alam semesta, walaupun tidak diwujudkan dalam bentuk kitab.

Lebih lanjut Riki menjelaskan, ilmu itu lahir dan terekspresi dalam bentuk kebudayaan yang diamalkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hal tersebutlah yang menjadi titik tekan Buya Syafii melihat keislaman dan keindonesiaan. 

Dalam kesempatan itu, hadir pula Dosen President University, Abdullah Sumrahadi sebagai pembedah buku. Abdullah mengatakan, buku ini menjadi sebuah hadiah bagi kelompok yang ingin mendalami pemikiran-pemikiran Buya Syafii dari perspektif yang berbeda. Setidaknya dari sudut pandang kebudayaan dan literasi. 

“Islam itu harus membumi dalam gerakan-gerakannya. Dan salah satunya melalui kebudayaan,” ungkap Anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah tersebut.

Hal tak jauh berbeda juga disampaikan pembedah lainnya, dosen Hubungan Internasional UMM Muhammad Subhan Setowara. Selain dikenal dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama dan bangsa, Buya Syafii juga sangat dekat dengan para pemuda. "Pun dengan upaya mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan," ucapnya dalam pesan resmi yang diterima Republika.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement