Senin 19 Jun 2023 06:58 WIB

Cerita Inspiratif Mahasiswa UMM, Rintis Program Pendidikan Khusus Daerah 3T

Amira juga fokus membantu dalam hal terapis anak-anak autis.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amira Syafana, termasuk mahasiswa berprestasi karena mendirikan program pendidikan.
Foto: Dokumen
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amira Syafana, termasuk mahasiswa berprestasi karena mendirikan program pendidikan.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Amira Syafana, sukses meraih penghargaan sebagai runner up 2 dalam ajang Putera Puteri Pendidikan Jawa Timur 2023. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Glamour Look Pageants di Kota Surabaya dan diikuti puluhan peserta.

Amira mengaku ada banyak sekali tahapan yang harus ia lewati untuk bisa lolos di grand final. Hal ini dimulai dari pendaftaran pada Februari lalu dilanjutkan dengan tes tulis, tes wawancara, dan focus group discussion, pra-karantina satu dan dua. Kemudian dilanjutkan dengan masa karantina dan puncaknya grand final pada 11 Juni 2023," jelasnya.

Menariknya, ia juga merupakan seorang aktivis pendidikan yang seringkali terjun ke sekolah-sekolah dalam kategori daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Bahkan, ia merintis lembaga advokasi Teacher for Charity yang memiliki tagar 'Bersama Eksplorasi Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu' (Bersatu). Lewat program itu, ia mengajar ke berbagai wilayah.

Bermodalkan rasa keikhlasan dan semangat kepedulian akan pendidikan, dia tergerak untuk ikut andil dalam memajukan pendidikan ini terutama kepada daerah 3T. Salah satunya dengan mendirikan lembaga advokasi Teacher for Charity sejak 2021 sebagai kendaraan formal saat dia terjun langsung ke sekolah-sekolah. Hal ini sekaligus menjadi pemantik bagi orang-orang untuk lebih peduli kepada pendidikan.

Menurutnya, kesetaraan pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat kurang. Hal ini terutama pada sekolah daerah 3T dari segi model pembelajaran dan media pembelajaran. Bahkan, juga dari segi desain pembelajaran hingga sarana prasarana penunjang pendidikan.

Saat ini, Amira juga fokus membantu dalam hal terapis keluarga autis tepatnya di Omah Terapi Autis. Di sana, ia mengajar basic life seperti membersihkan toilet sikat gigi, memegang sendok, hingga motorik kasar seperti melompat dan jalan.

“Kebetulan saya mendampingi anak-anak usia sekitar 3 hingga 7 tahun. Saya tidak bisa menutup mata dengan keberadaan anak-anak yang spesial. Saya sangat bahagia bisa berbagi dan mendampingi mereka,” jelasnya.

Amira juga produktif dalam dunia kepenulisan. Ia telah menelurkan delapan buku, beberapa artikel, dan opini yang mendapat penghargaan. Misalnya saja opini berjudul Merajut Asa Pejuang Merdeka Belajar yang sukses memenangi kompetisi Nasional PENMAS.

Menurutnya, karya itu menjadi usahanya untuk memberikan semangat bagi mahasiswa dan anak muda lain untuk berkarya.

Terakhir, dia berpesan kepada seluruh calon guru untuk lebih memperhatikan proses pendidikan.

Kemudian juga dengan tidak pilih-pilih dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik. Hal ini karena pendidikan merupakan garda terdepan dari sebuah bangsa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement