Jumat 11 Aug 2023 21:42 WIB

Mulai Pakai Kapal Listrik, Nelayan Cilacap: Hemat Biaya Operasional

Baterai hanya digunakan untuk menyalakan mesin saat berangkat melaut.

Peluncuran kapal listrik untuk para nelayan di Cilacap, Jawa Tengah.
Foto: Dok. HPJT
Peluncuran kapal listrik untuk para nelayan di Cilacap, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Sejumlah nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyambut baik kehadiran kapal bermotor listrik berbasis baterai yang diinisiasi PLN Group untuk menggantikan kapal berbahan bakar fosil yang selama ini digunakan nelayan.

Saat ditemui di sela Peluncuran Kapal Bermotor Listrik Berbasis Baterai di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pandanarang, Pantai Teluk Penyu, Cilacap, Jumat, salah seorang nelayan, Sukirman, mengaku mendapat kesempatan untuk ikut dalam uji coba penggunaan mesin kapal bermotor listrik berbasis baterai tersebut.

"Bagi nelayan, ini jauh lebih irit dibandingkan menggunakan mesin yang biasa itu sekali perjalanan bisa Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu untuk beli bensin," kata dia yang sudah mencoba menggunakan mesin kapal bermotor listrik berbasis baterai tersebut selama lima hari.

Akan tetapi, dengan mesin bermotor listrik tersebut, kata dia, nelayan cukup mengeluarkan biaya untuk mengisi baterai utama dan cadangan sebesar Rp 50 ribu.

Dengan demikian, lanjut dia, penggunaan mesin kapal bermotor listrik berbasis baterai itu dapat mengurangi biaya operasional yang berdampak terhadap pendapatan nelayan.

"Untuk penggunaan baterai yang diisi penuh sampai 100 persen, setelah digunakan selama satu jam hanya menghabiskan daya sebesar 67 persen," jelasnya.

Ia mengakui aktivitas di laut dilakukan sejak pagi hingga menjelang sore namun selama menangkap ikan, kondisi mesin dalam keadaan mati. Dalam hal ini, baterai hanya digunakan untuk menyalakan mesin saat berangkat melaut dan pulang ke daratan.

"Jadi memang irit banget. Untuk penggunaannya termasuk saat menerjang ombak tidak ada perbedaannya ketika menggunakan mesin tempel berbahan bakar fosil," kata dia.

Kendati demikian, diakui ada sedikit kesulitan pada sistem hidrolik yang digunakan untuk mengangkat dan menurunkan mesin di air karena pantai merupakan wilayah berpasir.

Oleh karena sistem hidroliknya lambat, kata dia, sering kali baling-baling mesin mengenai pasir ketika mesinnya diangkat untuk mendarat di pantai.

"Kalau mesin tempel yang biasa digunakan itu dilakukan secara manual sehingga lebih mudah untuk diangkat. Jadi, kesulitannya di situ," ujarnya.

Nelayan lainnya, Andung merasakan nyaman menggunakan mesin kapal bermotor listrik berbasis baterai tersebut meskipun daya dorongnya sedikit di bawah mesin tempel berbahan bakar fosil dua tak yang selama ini digunakan.

Kendati demikian, dia mengaku belum mencoba menggunakan kapal bermotor listrik tersebut hingga ke tengah laut karena selain waswas baterainya habis, kegiatan uji coba hanya dilakukan di sekitaran perairan Pantai Teluk Penyu.

"Baterainya satu hari habis satu unit, waswas kehabisan baterai kalau terlalu jauh ke tengah laut meskipun ada baterai cadangan yang dibuat paralel," ungkap dia.

Peluncuran Kapal Bermotor Listrik Berbasis Baterai yang diinisiasi PLN Group itu dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di TPI Pandanarang, Pantai Teluk Penyu, Cilacap, Jumat (11/8).

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement