Jumat 22 Sep 2023 19:46 WIB

Wisman Keluhkan Banyaknya Tumpukan Sampah, PHRI DIY: Mereka tidak Nyaman

Masih ada beberapa titik di Kota Yogyakarta yang terlihat tumpukan sampah.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Bungkusan sampah warga mulai menumpuk di salah satu titik di Kota Yogyakarta. (ilustrasi)
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bungkusan sampah warga mulai menumpuk di salah satu titik di Kota Yogyakarta. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- PHRI DIY menyebut penetapan Sumbu Filosofi menjadi warisan budaya dunia UNESCO bisa tidak berpengaruh kepada peningkatan wisatawan mancanegara jika permasalahan sampah di wilayah Yogyakarta belum terselesaikan.

Ketua DPD PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan, sudah ada wisatawan mancanegara yang mengeluhkan terkait permasalahan sampah ini. Sebab, masih ada beberapa titik khususnya di Kota Yogyakarta yang terlihat tumpukan sampah.

"Sampah ini juga harus kita perhatikan bersama, karena wisatawan asing banyak yang mengeluh. Mereka itu itu banyaknya jalan kaki, kalau di pinggir jalan seperti itu (ada tumpukan sampah), mereka menjadi tidak nyaman, sudah ada keluhan langsung kepada kita," kata Deddy kepada Republika, Kamis (21/9/2023).

Bahkan, ada wisatawan mancanegara yang mengubah destinasinya ke daerah lain karena tidak nyaman di DIY. Hal ini tentu mengurangi tingkat kunjungan ke DIY, yang mana sektor pariwisata juga menjadi penyumbang yang cukup besar bagi perekonomian DIY.

 

"Mereka merasa tidak nyaman dengan sampah yang ada di pinggir-pinggir jalan, akhirnya mengalihkan ke destinasi lain. Mereka yang seharusnya dua hari (di DIY) menjadi satu hari, ini jadi tantangan bagi kita," ungkapnya.

Deddy menuturkan bahwa dengan ditetapkannya Sumbu Filosofi Yogyakarta ini jangan sampai membuat DIY lengah. Justru, status tersebut seharusnya membuat DIY untuk bisa semakin berbenah.

"(Masalah sampah) Ini bukan domainnya pemerintah daerah saja, tapi juga kami (PHRI) sebagai pelaku pariwisata, dan juga masyarakat agar bisa mengedukasi diri kita masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan, tapi saling introspeksi diri," katanya.

Sementara itu, Pemkot Yogyakarta menyebut terus melakukan patroli untuk menyisir masih adanya masyarakat yang membuang sampah di pinggir-pinggir jalan. Bahkan, sejak awal September 2023 ini sudah diterapkan penegakan tegas secara yustisi terhadap masyarakat yang melakukan pelanggaran.

Meski begitu, Pj Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo, juga mengatakan bahwa volume sampah terus berkurang. Setidaknya, saat ini volume sampah di Kota Yogyakarta sudah berkurang menjadi 60 ton per hari.

Disebutkan, penurunan volume sampah merupakan hasil dari Program Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) yang terus digencarkan kepada masyarakat dan seluruh ASN di lingkungan Pemkot Yogyakarta. Ini dilakukan agar volume sampah terus berkurang.

Sehingga sampah yang dibawa ke TPA Regional Piyungan juga dapat terus berkurang. “Akan terus kami kembangkan biopori dengan berbagai macam varian yang ada. Baik ember tumpuk, biopori, losida, biolos, dan sebagainya, menyesuaikan kondisi masing-masing rumah," kata Singgih.

Data hingga 19 September 2023 menunjukkan sudah ada sekitar 30 ribu biopori yang dihasilkan dari Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta. Puluhan ribu biopori tersebut sudah terbangun di wilayah-wilayah agar masyarakat dapat melakukan pengolahan sampah organik secara mandiri.

Singgih menuturkan, pihaknya akan terus menggencarkan Gerakan Mbah Dirjo ini di masyarakat. Ditargetkan, setidaknya dari gerakan ini volume sampah di Kota Yogyakarta dapat berkurang 20-30 persen.

Menyusul dengan terus turunnya volume sampah ini, Singgih menyebut TPS sementara di Kota Yogyakarta akan dioptimalkan dalam mengelola sampah tersebut. Pihaknya akan terus mencoba mengembangkan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di selatan TPS3R di Nitikan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement