Ahad 01 Oct 2023 07:56 WIB

OJK Edukasi Komunitas Santri DIY, Dorong Potensi Santripreneur

Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan keuangan syariah.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman.
Foto: Dokumen
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dalam rangka Road to Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2023 dan Hari Santri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkatkan inklusi keuangan syariah di komunitas santri melalui forum edukasi dan temu bisnis, sekaligus mendorong para santri menjadi pelaku bisnis atau santripreneur berbasis syariah.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan, pihaknya memandang penting untuk merancang sebuah program peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah terutama untuk santri, alumni santri, dan mahasiswa (santripreneur).

"Kami berharap melalui kegiatan ini akan melahirkan lebih banyak entrepreneur santri untuk dapat mengoptimalkan potensi besar Indonesia dalam mengembangkan keuangan syariah,” kata ujarnya dalam Forum Edukasi dan Temu Bisnis Akses Keuangan Syariah untuk UMKM Santri dan Mahasiswa (FEBIS) di Convention Hall Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (30/9/2023).

Agusman menyampaikan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki potensi besar untuk pengembangan keuangan syariah. Berbagai cara harus dilakukan agar keuangan syariah semakin banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Digitalisasi industri keuangan syariah merupakan sebuah kebijakan yang perlu diimplementasikan untuk dapat terus bersaing di era yang serba cepat dan mudah saat ini.

"Pangsa pasar keuangan syariah baru sekitar 10 persen dari keuangan nasional. Ini perlu dukungan masyarakat luas termasuk kaum santri untuk terus dikembangkan," ujarnya.

Menurutnya, perlu memanfaatkan digitalisasi yang bisa memudahkan akses keuangan, tapi dengan tetap menjaga manajemen risiko supaya tetap dapat menjaga untuk perlindungan masyarakat.

Edukasi dan literasi keuangan syariah, juga penting untuk terus ditingkatkan agar pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah semakin baik. Tingkat literasi keuangan dan inklusi keuangan syariah hasil survei 2022 masing-masing 9,14 persen dan 12,12 persen.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki, inisiator dan Ketua Dewan Pembina Santripreneur Indonesia KH Ahmad Sugeng Utomo, Plh Kepala Perwakilan BI DIY, Agung Budilaksono, Senior Vice President Bank Syariah Indonesia Joni Haryanto, Wakil Ketua Klaster Syariah AFPI Chairul Aslam, serta Deputi Direktur Inklusi Keuangan Syariah KNEKS Eka Jati R Firmansyah.

Kegiatan ini dihadiri secara luring dan daring oleh sekitar 1.000 santri dan mahasiswa. Dalam sambutannya mewakili Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki menyampaikan apresiasi kepada OJK atas penyelenggaraan kegiatan FEBIS. Menurutnya, UIN sangat mengapresiasi dan bangga kegiatan ini dilaksanakan di UIN, karena sebagian besar mahasiswa UIN adalah santri.

"Karena santri di masa lalu tradisi wirausahanya kuat, mari kita melihat masa depan, dengan acara seperti ini santri diberi akses, dimentorin, insya Allah akan ada pelaku UMKM dan lahir konglomerat dari santri yang akan mewarnai Indonesia dan dunia,” kata Abdur.

Ketua Dewan Pembina Santripreneur Indonesia KH Ahmad S Utomo juga turut memberikan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya acara FEBIS.

“Saya sebagai ketua pembina santripreneur merasa ini bagian penting dari kita mencatatkan sejarah terkait inklusi dan keuangan syariah. Semoga dengan acara ini ada peningkatan pemahaman terkait literasi dan inklusi keuangan syariah bagi kita semua,” kata Ahmad.

Untuk mengoptimalkan implementasi temu bisnis antara santri UMKM, mahasiswa, dan industri jasa keuangan syariah, dilakukan sesi workshop dan sharing session dengan menghadirkan penggerak inklusi keuangan dari Young Entrepreneurs Academy dan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement