Ahad 08 Oct 2023 07:55 WIB

Tangani Persoalan Sampah, TPS3R Diharapkan Ada di Setiap Kapanewon 

DPRD Sleman mendorong agar beberapa padukuhan memiliki rumah pilah sampah.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Fernan Rahadi
Pekerja memilah sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terintegrasi (TPST) Sindu Mandiri, Desa Sinduadi, Sleman, Yogyakarta, Senin (11/9/2023). TPST Sindu Mandiri yang belum genap berusia satu bulan ini dibuat untuk mengatasi persoalan sampah di tingkat Desa Sinduadi yang bersamaan dengan ditutupnya TPST Piyungan. Saat ini pengolahan sampah tingkat kelurahan ini sudah menerima sampah sebanyak dua ton setiap harinya. Di sini juga tersedia pengolahan sampah organik dengan maggot serta alat pengepres sampah plastik menjadi kubus. Untuk sementara TPST ini hanya menerima sampah dari warga Sinduadi, dan tidak menutup kemungkinan akan menerima sampah dari warga desa lain nanti.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pekerja memilah sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terintegrasi (TPST) Sindu Mandiri, Desa Sinduadi, Sleman, Yogyakarta, Senin (11/9/2023). TPST Sindu Mandiri yang belum genap berusia satu bulan ini dibuat untuk mengatasi persoalan sampah di tingkat Desa Sinduadi yang bersamaan dengan ditutupnya TPST Piyungan. Saat ini pengolahan sampah tingkat kelurahan ini sudah menerima sampah sebanyak dua ton setiap harinya. Di sini juga tersedia pengolahan sampah organik dengan maggot serta alat pengepres sampah plastik menjadi kubus. Untuk sementara TPST ini hanya menerima sampah dari warga Sinduadi, dan tidak menutup kemungkinan akan menerima sampah dari warga desa lain nanti.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Arif Kurniawan, mengatakan bahwa persoalan sampah di Kabupaten Sleman menjadi persoalan genting dan darurat yang harus segera ditangani. Karena itu keberadaan TPS3R dinilai penting dalam menangani sampah di Sleman. 

"Justru (sampah) kita ini kan sebelum sampai ke TPST kita kan TPS3R," kata Arif kepada Republika, Sabtu (7/10/2023). 

Baca Juga

Ia pun berharap TPS3R terdapat di tiap-tiap kapanewon. Dengan demikian sampah yang sampai ke TPST bisa jauh berkurang. 

"Artinya kalau kita hitung 300 ton per hari sekarang sudah berkurang, berkurang karena kita punya TPS3R itu ya harapan kita itu efektif. Itu di masing-masing kapanewon ada itu bisa efektif, sehingga yang dikirim ke tempat pengolahan sampah terpadunya sudah sangat berkurang, mungkin tinggal jenis-jenis sampah yang tidak bisa terurai secara langsung itu bisa kita kirim ke sana," ungkapnya.

 

Arif mengatakan DPRD Kabupaten Sleman juga mendorong agar beberapa padukuhan memiliki rumah pilah sampah. Dengan adanya rumah pilah sampah diharapkan sampah berupa makanan tidak ikut dibuang atau bisa diolah menjadi hal yang bermanfaat.  

"Sampah-sampah yang tidak bisa terurai itu bisa dimanfaatkan oleh anak-anak muda, masyarakat, yang kita dorong setiap padukuhan ada rumah pilah sampah itu," ucapnya. 

Namun demikian peran masyarakat juga tak kalah penting untuk menangani sampah di Kabupaten Sleman. ia mengatakan masyarakat juga telah diedukasi dalam mengelola sampah rumah tangga.

"Kita edukasi masyarakat, khususnya sampah rumah tangga ya itu bisa dikelola sedemikian rupa oleh yang punya rumah saya kita lebih bagus lagi artinya tidak semua rumah itu  setiap hari memproduksi sampah tapi justru bagaimana sampah-sampah rumah tangga itu bisa diurai sendiri dibuat semacam pemilahan sampah yang ada di rumah masing-masing," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement