Jumat 20 Oct 2023 15:28 WIB

Savana Kawasan Bromo Kembali Menghijau Setelah Kebakaran Akibat Flare

Vegetasi di savana seperti rumput, sebagian sudah tumbuh kembali.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Pengunjung saling bercengkrama dengan latar savana Gunung Bromo di Bukit Teletubbies, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (16/10/2023). Kawasan tersebut mulai ditumbuhi vegetasi sehingga tampak hijau setelah terbakar pada Rabu (6/9) dan padam pada Kamis (14/9). ANTARA FOTO/Muhammad Mada/hp.
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada
Pengunjung saling bercengkrama dengan latar savana Gunung Bromo di Bukit Teletubbies, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (16/10/2023). Kawasan tersebut mulai ditumbuhi vegetasi sehingga tampak hijau setelah terbakar pada Rabu (6/9) dan padam pada Kamis (14/9). ANTARA FOTO/Muhammad Mada/hp.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kawasan wisata Gunung Bromo menghijau kembali setelah mengalami kebakaran akibat flare, beberapa waktu lalu. Beberapa tunas baru juga sudah mulai tumbuh terutama di area savana.

Kepala Bagian Tata Usaha, Balai Besar Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru (BB TNBTS), Septi Eka Wardhani menyatakan, kebakaran yang menimpa kawasan Gunung Bromo telah menimbulkan sejumlah jenis flora ikut terdampak. Beberapa di antaranya seperti rumput malelo dan anggrek di area savana terbakar. "Kalau jenis pohon contohnya ada cemara gunung dan lainnya," kata Septi.

Menurut dia, pemulihan pohon terdampak membutuhkan waktu setidaknya tiga sampai lima tahun. Namun untuk vegetasi di savana seperti rumput, sebagian sudah tumbuh kembali meskipun belum ada hujan.

Sebagaimana diketahui, saat ini sejumlah daerah di Jatim masih mengalami musim kemarau. Guna mencegah kebakaran, pihaknya pun mengimbau wisatawan yang hendak berkunjung untuk melakukan pemesanan tiket secara daring.

 

Itu artinya, wisatawan nantinya tidak perlu mengantri untuk membeli tiket di pintu masuk. Wisatawan cukup memeriksa terdapat tiket daring yang telah dipesan melalui situs BB TNBTS.

Mengingat belum turun hujan dan masih dalam musim kemarau, pengunjung juga diminta untuk waspada. Mereka diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan api.

Hal ini penting mengingat masih ada area yang cukup kering sehingga dapat mudah terbakar apabila terpicu api. Septi sangat memohon para wisatawan untuk menaati aturan yang berlaku.

Jika hendak berkunjung selain wisata seperti penelitian ataupun prewedding, wisatawan diharapkan menginformasikan kepada petugas di pintu masuk. "Nanti bisa diarahkan untuk langkah berikutnya untuk mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi)," jelasnya.

Ia juga memastikan petugas terus melakukan patroli guna mewaspadai kebakaran. Patroli terutama ditujukan di area yang rawan kebakaran di kawasan TNBTS. "Kita intensifkan patroli sebagai upaya pencegahan kebakaran agar tidak terjadi lagi," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement