Kamis 09 Nov 2023 09:07 WIB

Stabilkan Harga, Gerakan Pangan Murah Digencarkan di Kecamatan Yogyakarta

Total ada sekitar 14 bahan pangan yang disediakan.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Warga antre membeli beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat Gerakan Pangan Murah (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Warga antre membeli beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat Gerakan Pangan Murah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gerakan Pangan Murah terus digencarkan di Kota Yogyakarta sebagai salah satu upaya untuk menstabilkan harga bahan pokok. Pasalnya, sejumlah harga bahan pokok terus mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, Gerakan Pangan Murah ini digencarkan di kecamatan-kecamatan, salah satunya yang digelar di Kecamatan Kotagede, Rabu (8/11/2023). Gerakan ini menyasar ke masyarakat atau langsung ke konsumen.

“Kita lakukan Gerakan Pangan Murah dalam rangka untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan,” kata Singgih saat meninjau Gerakan Pangan Murah di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta, Rabu (8/11/2023).

Singgih menyebut, harga beberapa komoditas pangan di pasaran cukup tinggi berdasarkan pantauan yang dilakukan Pemkot Yogyakarta. Komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya gula pasir, minyak goreng, hingga telur ayam.

 

Selain itu, harga beras dan cabai juga naik signifikan. Untuk itu, pihaknya melakukan intervensi untuk memberikan kestabilan dari pasokan maupun harga melalui berbagai skema, salah satunya Gerakan Pangan Murah ini.

"Ternyata di Kemantren Kotagede antusiasme warga luar biasa. Sebelum buka, warga sudah sampai sini, antreannya cukup panjang. Ini menunjukan bahwa masyarakat sangat antusias dengan Gerakan pangan Murah," kata Singgih.

Lebih lanjut Singgih menyebut Gerakan Pangan Murah ini juga bagian dari tindak lanjut arahan Presiden RI untuk menjaga inflasi di daerah masing-masing. Misalnya, pasokan-pasokan yang masih kurang diupayakan untuk dicukupi.

Sementara itu, untuk harga bahan pangan yang sedikit melambung diintervensi dengan cara operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah. Pemkot Yogyakarta, lanjut Singgih, juga memiliki Kios Segoro Amarto sebagai referensi harga di tiga pasar pantauan di Kota Yogyakarta yakni Pasar Beringharjo, Pasar Prawirotaman, dan Pasar Kranggan.

“Semoga ini bisa membantu masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan bahan pangan dengan harga yang wajar,” jelas Singgih.

Gerakan Pangan Murah juga dilakukan bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog), termasuk pihak lain yang mendukung kegiatan tersebut. Singgih mengingatkan perlu adanya antisipasi mengingat kondisi El Nino yang panjang, memasuki masa kampanye, serta libur Natal dan Tahun Baru di mana permintaan kebutuhan pangan meningkat.

"Salah satunya bisa menjalin kerja sama dengan daerah lain yang memiliki stok pangan," kata Singgih.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta, Sukidi menambahkan, Gerakan Pangan Murah terselenggara atas kerja sama dengan Badan Pangan Nasional yang menugaskan Bulog. Dalam kegiatan tersebut, untuk beras dialokasikan sekitar 1,2 ton.

Dalam Gerakan Pangan Murah ini, harga pangan yang dijual tentu lebih murah dari harga pasar. Seperti beras medium yang kemasan lima kilogram dijual sekitar Rp 51 ribu, atau lebih murah dibandingkan di pasaran yakni sekitar Rp 13 ribu per kilogram.

“Beras dari Bulog harganya lebih murah dari pasar. Kemudian masih kita subsidi per kilogram Rp 1.000 dari anggaran APBD Kota Yogyakarta, sehingga yang dijual di sini lebih murah atau wajar,” kata Sukidi.

Total ada sekitar 14 bahan pangan yang disediakan dalam Gerakan Pangan Murah. Diantaranya yakni beras, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, telur ayam, bawang merah, hingga daging ayam.

Sukidi menjelaskan, Gerakan Pangan Murah ini tidak hanya melayani warga di Kecamatan Kotagede, namun juga penduduk Kota Yogyakarta secara luas. Gerakan Pangan Murah sendiri sudah diadakan di kecamatan lainnya seperti Kecamatan Wirobrajan, Kecamatan Tegalrejo, Danurejan, dan Gondokusuman.

Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Yogyakarta juga sudah menyebut sebelumnya bahwa harga pada komoditas cabai di pasaran mengalami kenaikan. Disebutkan, kenaikan harga komoditas cabai ini dikarenakan hasil panen yang menurun akibat kemarau panjang.

Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawas, dan Pengendalian Perdagangan Disdag Kota Yogyakarta, Sri Riswanti mengatakan, harga cabai rawit merah per 6 November 2023 sebesar Rp 70 ribu per kilogram. Meski begitu, harga cabai rawit merah ini sudah cenderung menurun dibandingkan pekan lalu yang mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

Pada komoditas cabai rawit hijau dan keriting merah, harganya mencapai Rp 60 ribu per kg. Selain itu, untuk cabai merah besar mencapai harga Rp 40 ribu per kg.

"Harga fluktuatif harian, bahkan pernah harga pagi dan sore bisa berbeda," kata Riswanti.

Selain karena musim kemarau berkepanjangan, Riswanti menuturkan bahwa komoditas cabai ini termasuk jenis sayuran yang mudah busuk setelah dipanen. "Sehingga harga mahal ini tergantung dari pasokan petaninya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Riswanti menyebut harga komoditas pangan lainnya seperti telur juga mengalami kenaikan. Meski begitu, kenaikan harga telur ini tidak terlalu signifikan yakni Rp 27 ribu per kg. "Harga telur naik dari pekan sebelumnya Rp 26 ribu per kg," ungkap Riswanti.

Sementara itu, untuk harga beras dikatakan terbilang stabil. Riswanti menuturkan, harga beras medium mencapai 11.933 per kg, dan beras termurah seharga Rp 10.800 per kg.

"Harga gula pasir Rp 16 ribu per kg, dan minyak goreng curah di harga Rp 13 ribu per kg. Sedangkan untuk daging sapi cukup stabil Rp 130 ribu per kg, dan daging ayam Rp 35 ribu per kg," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement