Rabu 15 Nov 2023 09:43 WIB

Kuliner Mie Ayam Cakruk, Dari Gerobakan Kini Berkedai dengan Ratusan Pelanggan

Selain mie ayam, sajian baksonya juga memiliki kekhasan tersendiri.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Aneka sajian menu di warung Mie Ayam Cakruk Sleman.
Foto: Idealisa Masyrafina
Aneka sajian menu di warung Mie Ayam Cakruk Sleman.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Mie ayam merupakan hidangan yang banyak dijual, dari penjual kaki lima sampai di restoran. Salah satu yang terkenal memiliki rasa otentik di DI Yogyakarta dapat ditemukan di Mie Ayam Cakruk CJDW.

Lokasinya terletak di Jalan Ngapak - Kentheng No KM 6,5, Cokro Gedok, Sidoarum, Godean, Kabupaten Sleman. Seperti namanya: seje dewe (beda sendiri), keunggulan mie ayam ini terletak pada keontentikan mienya.

Pak Gito, pemilik warung, terus menjaga cita rasa khasnya untuk memuaskan setiap pelanggan yang datang. Selain mie ayam, sajian bakso juga memiliki kekhasan tersendiri, sebab dibuat dengan resep khusus oleh Pak Gito.

Berjualan makanan khas Indonesia ini sudah dilakoni pria asal Magelang itu sejak lama, kiranya tahun 90-an saat ia merantau di Jakarta. Oleh Dompet Dhuafa, Pak Gito diberi perbekalan tentang kewirausahaan. Kini ia telah mampu berkembang, hingga memiliki outlet dan beberapa karyawan.

 

Namun, perjalanannya hingga pada titik sekarang tentu tidaklah mudah. Sebelum seperti ini, Pak Gito adalah seorang pedagang kaki lima. Setiap hari, dengan gerobaknya ia bertengger di sebuah balai yang kerap digunakan warga setempat untuk cakrukan atau poskamling.

Itu yang menginspirasi Pak Gito menamai dagangan mie ayamnya dengan nama Mie Ayam Cakruk. Nama unik ini masih ia sematkan hingga sekarang sebagai cara mengenang sejarah.

Pada 2011, ia bergabung dalam paguyuban Warung BERES (Bersih, Enak, Sehat), program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa Yogyakarta. Implementasi Program Warung BERES dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan yang berkesinambungan.

Antara lain yaitu pembinaan usaha, bantuan modal, dan paguyuban dagang. Program ini bekerjasama dengan UGM (Universitas Gadjah Mada) untuk membina setiap penerima manfaat.

"Bagaimana saya bisa mengembangkan usaha kalau uang 500 (ribu) saja ndak punya. Saya bingung gimana bisa mengembangkan usaha ini. Tapi di pikir saya pengen maju," ujar Gito pada Selasa (14/11/2023).

Selama kurang lebih enam bulan dibina, ditambah menemukan teman-teman paguyuban yang saling menyemangati, Mie Ayam Cakruk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bermodal ilmu-ilmu yang ia dapatkan selama pembinaan, ia memberanikan diri untuk menyewa outlet agar mampu memproduksi mie lebih banyak dan menerima pelanggan lebih banyak.

Saat itu dari menjual barang berharga dan perhiasan milik istrinya, terkumpul uang sebesar Rp 6 juta. Kemudian pada 2006 uang tersebut digunakan untuk mengontrak lokasi usaha.

"Alhamdulillah setelah itu tiga bulan semakin berkembang. Lama-lama saya bisa ngontrak satu tahun, sampai sekarang ini,” lanjutnya.

Di outlet inilah, Pak Gito mulai merambah penjualan dengan menambah menu bakso dan berbagai aneka minuman. Namun satu yang terus dipertahankannya, yaitu resep adonan mie dan racikan bumbunya.

Ia mengaku, dulu ia bisa mengenal program BERES Dompet Dhuafa bermula diajak oleh seorang teman. Tekadnya untuk berkembang semakin dikuatkan oleh para anggota paguyuban. Sekarang sudah tujuh tahun sejak Pak Gito menempati outlet itu .

Banyak yang sudah bertambah, baik dari menu varian, pelanggan, hingga kini ada dua karyawan. Pak Gito mengingat betul saran-saran dari para mentor dosen UGM kepada dirinya.

Bagian kecil yang selalu ia terus ingat adalah bahwa berdagang itu yang paling penting adalah harus selalu bersih semua. Baik peralatan dan tempat dari depan hingga belakangan, dari proses awal produksi hingga proses akhir.

“Misalnya kalau makanan itu wadahnya harus dicuci dengan air mengalir. Meja ditata dengan rapi tidak boleh berantakan," ujar dia.

Sebagai tolak ukur pembanding, ada satu hal yang mengalami peningkatan secara signifikan, yaitu pada jumlah mie dan bakso yang diproduksi dan terjual setiap harinya. Dulu, saat masih berupa gerobak, dalam sehari, mie sebanyak dua kilogram saja sering tidak habis.

Sekarang, Pak Gito harus mampu memproduksi minimal 20 kilogram mie dalam sehari. Dari 20 kilogram mie itu, biasanya dapat dipakai untuk membuat 250 porsi mie ayam.

Begitupun menu bakso, setiap harinya pasti terjual sebanyak 250 porsi. Maka total pelanggan Mie Ayam Bakso CJDW setiap harinya sebanyak 500 orang, jika dihitung satu pelanggan untuk satu porsi.

Mie Ayam Bakso CJDW buka pukul 08.00 - 19.00 WIB. Jam makan siang menjadi waktu yang paling disukai pelanggan. Ia tak keberatan untuk membuka warung setiap hari tanpa hari libur.

Sebab, ia pun bertempat tinggal di situ bersama istri dan dua anaknya yang masih sekolah. Sayangnya, ia masih enggan untuk merambah pada penjualan daring.

Alasannya, kondisinya yang sekarang ini sudah dirasa cukup untuk dirinya dan keluarga. Selain itu, sebagai bagian dari paguyuban Warung BERES, ia harus lebih ekstra untuk menjaga kualitas dan kebersihan dagangan.

Belum lagi setiap satu bulan, warung harus dilakukan maintenance secara total. Kendati begitu, Mie Ayam Cakruk milik Pak Gito sudah terkenal akan rasanya yang enak. Baginya itu sudah cukup.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement