Rabu 15 Nov 2023 19:21 WIB

Lima Mahasiswa Asal Palestina Peroleh Beasiswa dari Unair

Menganut nilai morality, Unair terpanggil untuk memberikan kontribusi terbaiknya.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Fernan Rahadi
Universitas Airlangga (Unair)
Foto: istimewa
Universitas Airlangga (Unair)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Universitas Airlangga (Unair) memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang berasal dari Palestina. Beasiswa tersebut diberikan di sela Sidang Dies Natalis ke-69 Universitas Airlangga yang digelar di Aula Garuda Mukti, Kampus C Unair, Surabaya, Rabu (15/11/2023).

Rektor Unair Prof Mohammad Nasih menjelaskan, beberapa mahasiswa asap Palestina yang menimba ilmu di Unair tidak dapat menghubungi sanak saudaranya. Akibatnya, kata Nasih, kiriman biaya hidup yang seharusnya mahasiswa terima harus terhenti begitu saja.

"Ada kawan-kawan yang untuk menghubungi keluarganya saja kesulitan bahkan tidak bisa. Apalagi untuk mendapatkan kiriman biaya dan lain-lain. Sehingga, pasti kondisi seperti sekarang akan sangat mengganggu proses belajar mengajar dari kawan-kawan mahasiswa," kata Nasih.

Menganut nilai morality, kata Nasih, Unair terpanggil untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Nasih berharap, dukungan moral maupun materi dapat membantu mahasiswa Palestina untuk dapat melanjutkan studi mereka di Indonesia.

 

"Support dari kita sangat dibutuhkan untuk bisa menyelamatkan, paling tidak studi kawan-kawan mahasiswa yang berasal dari Palestina. Rencananya kita memberikan beasiswa sampai dengan selesainya studi yang bersangkutan," ujar Nasih.

Terdapat lima mahasiswa Palestina yang mendapatkan beasiswa tersebut. Masing-masing mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp 5 juta serta biaya kuliah sesuai dengan yang berlaku pada program studi masing-masing mahasiswa.

Salah satu penerima beasiswa tersebut yaitu Amina Alzaanin, mahasiswa S3 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga. Amina mengaku belum mengetahui kondisi terkini keluarganya di Palestina.

"Belum ada komunikasi, selama 15 hari ini belum ada kabar apa pun. Kalau rumah saya sudah dibom, sudah hancur. Jadi kondisi saat ini merupakan perang yang besar," kata Amina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement